Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada pun isi sebuah buku kenangan adalah catatan kenangan akan suatu kebersamaan. Buku itu menyimpan rapi, semua coretan dari ujung-ujung jemari yang digoreskan di atas sehelai kanvas kehidupan.”
(Makna Isi Catatan dari Sebuah Kebersamaan)
…
| Red-Joss.com | Tulisan reflektif ini bertujuan untuk menyadarkan manusia, bahwa segala sesuatu akan berakhir dan bahkan berujung pada kefanaan belaka!
Sungguh, sebagai makhluk sosial, kita hidup dan terjalin rapi di dalam suatu kebersamaan.
Kebersamaan itu, entah sebuah taman pendidikan atau sebuah paguyuban atau juga sebuah lembaga kerja.
Ada tradisi unik yang sungguh mengesankan, ialah mereka bersama akan menuliskan aneka kenangan di dalam buku kenangan itu.
Kenangan itu, baik berupa pengalaman kebersamaan, atau peristiwa yang sungguh berkesan saat bersama, dan bahkan juga berupa kata-kata perpisahan, pesan, dan doa restu bagi masa depan mereka.
Di saat menjelang kepergian atau pisah kenang, biasanya isi buku itu akan diutarakan. Biasanya menimbulkan gelak tawa dan bahkan juga berurai air mata.
Keesokan hari, satu demi satu akan meninggalkan kebersamaan mereka. Suasana biasanya sudah tidak keruan. Ada terdengar isak tangis pilu dan tampak tangan-tangan gemas erat berangkulan antar sesama.
Keesokan hari, orang yang paling akhir meninggalkan kebersamaan itu, akan mengalami kesepian panjang.
Apa yang tersisa dari semuanya itu? Ketika menjelang petang, mereka telah jauh entah di mana.
Di hari-hari pertama, biasanya mereka masih sempat saling mengingat dan mengenang. Bahkan masih juga ada butiran rindu menyayat yang menggugah hati.
Namun ketika hidup ditelan waktu, apa yang masih tersisa? Biasanya, kenangan itu akan kian mengecil dan mengerucut.
Ternyata, sungguh terbatas ingatan manusia akan suatu kebersamaan mereka di masa lalu.
Kini yang tersisa dan yang dikenang hanyalah sebuah catatan sunyi yang seolah dilupakan di balik daun-daun buku kenangan itu.
Maka, dapat disimpulkan, bahwa hidup ini sungguh laksana sebuah ziarah hidup yang hanya mampu meninggalkan jejak di atas pasir kehidupan.
Dia yang sunyi tiads bersuara, tapi akan hidup dan bermakna sebagai sebuah warisan kebersamaan.
Itulah nasib tidak menentu dari sebuah jejak yang ditinggalkan.
Karena kelak, tidak seorang pun akan mengenangnya lagi!
Nasib, oh, sang nasib!
…
Kediri,ย 23ย Aprilย 2024

