| Red-Joss.com | Cinta yang diberikan-Nya dibalas dengan penolakan, dihukum mati, difitnah, diolok-olok, dicambuk, disalib, dan ditombak lambung-Nya.
Mengapa Dia kuat? Karena Dia mengajarkan untuk membalas kebencian dengan kebaikan dan mengampuni 70×7.
- Dia mengajarkan untuk mengasihi yang bersalah. “Ampunilah mereka, ya, Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat.”
- Dia juga mengajarkan, “Roh Kudus membuat kita jadi bebas.”
- “Batu yang dibuang oleh Tukang Bangunan akan menjadi batu penjuru.”
- “Cintailah musuh-musuh kita dan mintalah doa serta berkat dari orang yang menganiaya kita.”
- “Kita adalah terang dunia” agar kita selalu memancarkan terang-Nya di manapun kita berada.
Dia berkorban, sengsara, dan mati itu tidak untuk sesuatu yang sia-sia. Dia melakukan semua itu, karena cinta. Mencintai kita yang penuh dosa. Karena jalan satu-satunya untuk menebus dosa kita, Dia mengalami sengsara dan kematian.
Pada akhirnya, dosa, maut dan kematian dikalahkan dengan kebangkitan-Nya.
Itulah sebabnya, Perayaan Paskah jadi Puncak dari Nisteri Iman Kristiani, di mana kita merayakan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.
Setelah kebangkitan, Dia mengatakan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus.”
Kemudian setelah Dia diangkat ke Surga. Dia mengutus murid-murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus.” Ini pesan perutusan-Nya, “Kamu akan menjadi saksi-Ku mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung dunia” (Kis 1: 18).
Dia kuat, maka kita murid-murid-Nya juga harus kuat.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

