| Red-Joss.com | Anda, kita, dipanggil untuk menulis ‘narasi’ tentang betapa baik-Nya Tuhan, sebagai Gembala Utama.
Asli WAnya begini: “saya tadi tengok-tengok, nggak lihat Bapak dan Ibu di Gereja.” Ya, kami biasanya misa jam 06.00 pagi di Gereja kami. Hening dan bisa mampir pasar atau belanja sepulang dari misa. “Ah, mulai cari gembala lain ya…,” selorohnya. Ha ha, bisa saja membuat ‘narasi’.
Dikutip dari situs Kemdikbud, ‘narasi’ adalah karangan cerita yang menyajikan serangkaian peristiwa kejadian dan disusun secara kronologis sesuai dengan urutan waktunya. Peristiwa itu bisa benar benar terjadi, tapi bisa juga hanya khayalan saja.
Hari ini pesan sucinya tentang ‘gembala yang baik’, dalam perspektif Gereja. Siapa gembala dan apa peran gembala itu?
Dalam komunitas umat beriman yang disebut Gereja, ada dua macam panggilan yang tidak bisa di-‘dikotomi’-kan yakni keluarga dan hierarki. Tugasnya, dengan cara berbeda, sebagai (gembala) menuntun komunitasnya, menuju kepada Gembala Utama, Tuhan.
Jadi, di dalam keluarga ada gembala dan di luar keluarga ada gembala yang khusus mendedikasikan dirinya sebagai Imam untuk menuntun umat kepada Gembala Utama.
Mana yang lebih baik? Kedua panggilan ini baik. Menjadi gembala baik untuk keluarga sama baiknya dengan menjadi gembala baik untuk komunitas umat beriman secara keseluruhan.
Maka, kalau ingin mendapat ‘follower’ yang berkualitas, tidak cukup hanya dengan satu hari – Minggu Panggilan.
Narasinya pun tidak cukup hanya dengan mulut manis, tetapi dengan keteladanan seumur hidup, dilihat setiap saat, satu antara kata dan perbuatan.
Zaman sekarang, tidak akan di-‘follow’, kalau minus keteladanan. Sebagai seorang ayah dan ibu, kami harus cermat, kalau mau di follow oleh anak-anak kami.
Mereka tidak ragu untuk berkeluarga seperti Ayah dan Ibunya, karena melihat gambaran masa depan mereka dalam setiap kata dan perjuangan orangtuanya. Bagi mereka, orangtuanya sudah menjadi gembala.
Hal yang sama harusnya dilakukan oleh para gembala rohani. Dengan cara apa agar cara hidup mereka di-‘follow’ oleh banyak kawula muda. Tidak cukup sehari, tapi seumur hidup. Tak mungkin hanya dari mimbar, tapi solider dengan jatuh-bangun dan kesusahan mereka saat ini. Tak henti menjadi sahabat sejalan bagi mereka. Kita tak mungkin bisa bersembunyi menjadi bukan diri kita.
Setiap orangtua, Imam dan biarawan, mempunyai panggilan sama, menggembalakan anak-anak kita, mengenal Gembala Utama, dan Sang Gembala Utama yang akan memilih, dari antara mereka untuk berkeluarga atau Imam atau biarawan seperti yang di-narasi-kan oleh Martyn J. Nistrom dalam lagu ciptaannya “As the Deer”… Seperti Rusa rindu sungai-Mu.
Dengan melihat cara hidup dan perjuangan kita (oran tua, Imam, biarawan) – ‘setia’ menghidupi panggilan masing-masing, maka mereka (kaum muda) tergerak untuk menginginkan Allah lebih daripada kemudahan, hiburan, kemasyuran, kekayaan, teman, atau bahkan hidup itu sendiri. Mereka menginginkan Allah, sehingga hati mereka sangat rindu akan Allah seperti rusa merindukan sungai yang ber-air.
Salam sehat. Selamat memperbaharui panggilan.
…
Jlitheng

