| Red-Joss.com | Ada yang masih menimbang-nimbang: masuk ke seminari atau tidak. Ada yang sudah ada di seminari, tapi sedang bimbang juga: mundur atau dilanjutkan? Ada juga yang sudah menjadi Imam dan Biarawan, tapi ada yang sedang bergulat: bisa bertahan atau tidak? Tiga situasi itu mewarnai kehidupan mereka yang akan memutuskan, berproses dan yang saat ini sudah menjalani, padahal figur yang diikuti sama, yaitu Sang Gembala yang Baik, Yesus.
Sang Gembala yang Baik itu mengatakan, “I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep” (John 10:11). Siapa pun yang merindukan untuk menjadi gembala yang baik, tujuan pertama ini: “Memberikan dirinya seluruhnya untuk tugas penggembalaan.” Penyerahan diri yang totalitas. Dalam bentuk konkrit sekarang, tugas penggembalaan, taat kepada pimpinan: Bapa Uskup dan Pater Provinsial.
Sang Gembala yang Baik menegaskan, “I am the good shepherd, and I know mine and mine know me, just as the Father knows me and I know the Father, I will lay dowm my life for the sheep” (John 10:14-15).
Dalam tugas penggembalaan itu harus mengenali medan penggembalaannya, tahu persis tugasnya, dan tahu betul yang sedang digembalakannya itu. Bagaimana kita menjalani tugas penggembalaan dengan baik, jika kita tidak mengenal siapa saja yang kita gembalakan? Kontak dan komunikasi pun tidak pernah, bagaimana mungkin kita bisa jadi gembala yang baik? Bahkan ada yang merasa mempunyai gembala, tapi tidak merasakan penggembalaannya. Tidak pernah disapa. Hal ini, tanpa disadari sering terjadi pada pelayanan secara nyata.
Tanggung-jawab dari Sang Gembala yang Baik itu demikian, “No one takes it from me, but i lay it down on my own. I have power to lay it down and power to take it up again” (John 10:18). Tanggung-jawab dan tugas penggembalaan yang diberikan harus dijeda dengan baik, karena ini menyangkut keselamatan jiwa-jiwa. Jangan menyepelekan dan jangan tidak mau tahu. Siapa pun yang dipercayakan kepada Gembala untuk digembalakan harus dipimpin untuk mengalami pengalaman yang sama, yaitu pengalaman dikasihi oleh Allah.
Akhirnya, Sang Gembala yang baik mengatakan, “This command I have received from my Father” (John 10:18). Ingat, jaga, dan lakukan dengan baik tugas penggembalaan yang sudah dipercayakan oleh para pemimpin. Sehingga umat Allah merasakan sedang dituntun oleh para gembala yang baik, seperti Sang Gembala yang Baik dalam Bacaan Injil hari ini.
Siapa pun bisa jadi gembala yang baik dalam pekerjaan, tugas dan pelayanan masing-masing. Apakah kita merasakannya? Atau tetap memilih menjadi “A hired man” saja. Jika memilih menjadi seorang upahan, ya seperti ini, “A hired man, who is not a shepherd and whose sheep are not his own, sees a wolf coming and leaves the sheep and runs away, and the wolf catches and scatters them. This is because he works for pay and has no concern for the sheep” (John 10:12-13).
Hal itu betul adanya, dan banyak yang melakukannya, “I don’t care,” yang penting “I get money.” Sayang sekali, jika kita melepaskan tugas penggembalaan yang sangat luhur itu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

