Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hari ini, hari Kartini, menjadi relevan, bukan hanya untuk perempuan, melainkan untuk peradaban bangsa.”
Alissa Wahid
…
| Red-Joss.com | Saudara sebangsa dan setanah air, tulisan ini saya turunkan tepat pada tanggal 21 April 2024.
Saya sungguh tergugah dan merasa turut digugat oleh Alissa Wahid lewat tulisan beliau dalam kolom Gaya Hidup, Kompas, Minggu (21/4/2024), berjudul Kartini.
Sungguh disayangkan, jika ternyata momen bersejarah ini, ternyata tidak lagi bergema dan digemparkan.
“Hari ini adalah hari Kartini, satu-satunya hari besar Indonesia yang dinisbatkan kepada sosok individu. Tetapi, tampaknya bagi anak-anak muda Indonesia, inspirasi sosok Kartini semakin pudar karena dianggap tidak lagi relevan,” demikian Alissa Wahid.
Di antara Dua Presiden
Presiden Sukarno mengangkat Ibu Kartini menjadi pahlawan Nasional karena dianggap sebagai sosok perempuan yang mampu menggelorakan kesadaran dan spirit revolusioner yang sangat langka bagi seorang perempuan di masa itu.
Keunggulannya justru karena catatan-catatan berupa tulisan keprihatinannya yang merupakan pergumulan batin dan nalar kritisnya yang sangat kuat yang berdampak gagasannya lebih mudah ditelusuri.
Surat-surat berupa isi hati keprihatinannya itu kemudian dikirimkan kepada para perempuan di negeri Belanda yang kelak dibukukan, yang kita kenal dengan sebutan, “Habis Gelap, Terbitlah Terang.” (Post Nubila Lux).
“Di zaman Presiden Soeharto, sosok Kartini lebih diperhalus sebagai Ibu Pertiwi, lengkap dengan konde serta kebaya, sesuai ideologi ibuisme Orba,” demikian Alissa Wahid.
Padahal di sisi yang lain, beliau adalah Srikandi, pendekar yang melawan konsep wanita yang berani diatur. Dialah sang pejuang kaum wanita untuk membebaskan mereka dari kungkungan sistem partiarki.
Jejak Kaki Kartini Kini
Bagaimana dampak psikologis dari aspek kegegapgempitaan perjuangan Ibu Kartini hingga kini?
“Yang terpenting, sosok dan perjuangannya adalah sumber inspirasi bagi kaum muda. Indonesia membutuhkan kaum muda yang memiliki nalar kritis yang kuat, progresif, dan revolusioner. Apalagi kita saat ini tengah mengalami kemunduran peradaban demokratis Indonesia yang egaliter. Kartini adalah salah satu sumber belajar yang baik tentang perjuangan dan perlawanan kritis,” demikian Alissa Wahid menutup tulisannya.
Masih adakah naluri cerdas sang Kartini, sebagai pejuang kritis yang masih bergaung dan bergema di dalam sanubari generasi muda kita hari ini?
Bangsa kita sangat membutuhkan patriot-patriot muda kritis dan berani.
Kita sangat membutuhkan para pejuang muda yang ulet, tahan banting, dan pantang menyerah dalam aneka bidang kehidupan.
…
Kediri, 21 April 2024
…
Foto Ilustrasi: Isimewa

