Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“ego non sine te nec tecum vivere possum“
(aku tidak bisa hidup tanpamu dan denganmu)
(Ovidius)
…
| Red-Joss.com | Inilah sebuah kisah tentang “cinta abadi” (amor aeternus), yang menggetarkan nurani.
Tulisan reflektif ini, saya bagikan dan persembahkan kepada Anda semua. Mengapa? Karena saya merasa sangat terinspirasi oleh kehangatan dan kekokohan cinta seorang kakek (70) kepada istrinya yang pikun di sebuah panti jompo.
(Sumber TikTok).
Pukul tujuh pagi hari seorang kakek berusia tujuh puluh tahun sudah berada di sebuah klinik.
Dia datang demi menjahit luka di jari tangannya. Namun, karena para dokter masih sangat sibuk, maka kakek itu terpaksa harus rela untuk menunggu.
Seorang perawat belia bertanya padanya, “Mengapa kakek tampak sangat gelisah. Apakah ada sesuatu yang dicemaskan?”
“Ya, karena siang ini, saya berencana untuk santap siang bersama istri saya!”
“Di mana dia berada,” sela sang perawat sambil menjahit luka si kakek.
“Dia berada di panti jompo,” jawab sang kakek. “Namun, dia sudah tidak mengenal saya, karena menderita alzheimer dalam lima tahun terakhir ini!”
“Jika dia sudah tidak mengenal kakek lagi, mengapa kakek harus tergesa-gesa?”
Mendengar tuturan sang perawat, tampak kakek itu terperanjat.
“Dia, memang sudah tidak mengenal saya lagi, tapi saya kan masih mengenal dia.”
Sungguh interisan kisah kasih nan abadi ini. Betapa dasyat energi cinta sejati itu.
Saya pun segera teringat akan ucapan Ovidius Nasu dalam bukunya Amores, sebuah kumpulan puisi cinta.
“Cinta adalah kekuatan yang menggetarkan hati manusia untuk berelasi dengan orang yang dicintainya. Cinta jenis ini, biasa disertai aneka perasaan yang sangat menyenangkan.”
“Relasi model ini biasanya disertai adanya ketergantungan dengan pribadi yang dicintai, sehingga pada akhirnya saya berkata, โEgo nec sine te nec tecum vivere possumโ. Aku tak bisa hidup tanpa dan denganmu.”
Mari kita cermati enam catatan dari John Gray penulis buku “Man from Mars, Women from Venus” (Pria dari Mars, Wanita dari Venus).
- Wanita membutuhkan perhatian, pria membutuhkan kepercayaan;
- Wanita membutuhkan pengertian, pria membutuhkan penerimaan;
- Wanita membutuhkan rasa hormat, pria membutuhkan penghargaan;
- Wanita membutuhkan kesetiaan, pria membutuhkan kekaguman;
- Wanita membutuhkan penegasan, pria membutuhkan persetujuan;
- Wanita perlu jaminan, pria perlu dorongan.
Konklusi dari keenam dalil di atas bermakna, “Aku tidak bisa hidup tanpamu” dan disahut pasangannya, “Aku juga tidak bisa hidup tanpamu.”
Maka, sungguh tepat pernyataan Leonardo dan Vinci, “Semakin besar jiwa seseorang, kian dalam cintanya!”
Maka, kini kita boleh memahami ucapan sang kakek, bahwa “Dia memang sudah tidak mengenal saya, namun saya masih mengenalinya.”
Duh Gusti,
“Deus Caritas Est!“
Sungguh, cinta itu telah mengalahkan segalanya.
(Amor Omnia Vinci)
Sungguh, cinta pun telah melahirkan cinta.
(Amor Gignit Amorem)
…
Kediri,ย 21ย Aprilย 2024

