| Red-Joss.com | Sebuah ilustrasi inspirasi untuk teman sejawat.
Dia itu usianya tak bisa lagi disebut muda, banyak juga yang sudah tergolong renta. Pendidikannya tidak tinggi. Bukan pula dari jalur khusus. Hidupnya tidak tergolong mudah, karena yang masih bekerja pun tanpa jaminan ada pensiun, yang dapat memberi ketenangan saat raga tak lagi berdaya.
Dia adalah ‘pamong sabda’ di gerejaku. Hidup dengan sangat bersahaja dalam hampir semua hal.
Anehnya: bagi orang yang bersahaja hidupnya, selalu ada waktu untuk Tuhan, teman dan tetangga. Dia tidak butuh surat undangan, juga tidak butuh jemputan, sebab yang terisi di pikiran dan hatinya ‘bagaimana aku bisa meringankan beban’, bukan ‘menjadi beban’ bagi orang lain.
Tak heran: hidupnya lebih tenang dan damai. Langkah kakinya pun lebih ringan. Karena hatinya tak pernah tergadaikan pada rasa iri dibandingkan orang lain.
Patut diyakini: mereka itu insyaf, bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup masing-masing, sehingga tidak sulit baginya untuk rela menerima apa yang mereka capai dan miliki.
Tidak heran: karena dia sudah terbiasa menjalani kemarau kehidupan, sehingga tidak cepat haus mengejar nafsu materi atau sukses duniawi.
Dia mudah bersyukur atas tetes-tetes rezeki yang dia terima. Oleh karena itu, baginya selalu ada waktu untuk Tuhan, teman dan tetangga.
Baginya, tugasnya adalah panggilan, “mewartakan kabar, bahwa hidup itu karunia Allah,” yang harus terus dirawat dan diruwat.
Dia teguh dan yakin: bahwa panggilan itu hanya dapat dia lakukan, jika dia hidup bersahaja di hadapan Allah.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

