Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pemahaman saya sederhana saja. Saya hanya meyakini mereka adalah orang-orang yang bertuhan kepada nilai.”
(Butet Kartaredjasa)
…
| Red-Joss.com | “Ketika seorang rohaniwan di suatu persidangan agung berikhtiar ikut menegakkan konstitusi, menyampaikan pandangan dan pemikiran filosofis tentang etika terkait kepantasan dan adab dalam berpolitik, ia diserang. Diminta kembali ke jalan yang benar.” Demikian pengantar opini dari seniman Butet Kartaredjasa yang berjudul, “Memuliakan Manusia,” Kompas, Kamis (18/4/2024).
Saat saya membaca, mencermati kerinduan dan pencerahan sebagai roh sejati dari opini seniman Butet, saya memberanikan diri untuk membagikannya kembali spirit dari amanat opini ini kepada sesama.
Tulisan opini ini lahir sebagai sebentuk akumulasi personalnya, terhadap sebuah realitas aktual, ketika sang rohaniwan yang berbicara tentang etika kepemimpinan lewat suatu persidangan agung yang berikhtiar ikut menegakkan konstitusi yang malah diminta untuk kembali ke jalan yang benar. Peristiwa memalukan ini memang terjadi di negeri nan jelita ini, sebulan terakhir ini (April 2024).
Pertanyaan Kritis
Beliau mempertanyakan, mengapa justru para profesional: rohaniwan, akademisi, seniman diminta untuk kembali ke jalan yang benar?
Artinya: para profesional dari aneka latar belakang disiplin ilmu dan keterampilan itu diminta untuk jangan ikut-ikutan turun gunung dalam konteks spesial ini.
Rupanya, mereka mau mengingatkan para profesional itu akan risiko kepahitan seperti yang pernah dialami para profesional di masa Orde Baru.
Demi Kemanusiaan
Butet pun beropini, bahwa para profesional itu terpaksa berpolitik praktis, lewat mimbar bebas, turun ke jalan, melancarkan gugatan, itu hanya merupakan sebuah keniscayaan.
Keniscayaan yang mau tak mau, rela tak rela mesti dijelmakan jadi sebuah tindakan konkret. Inilah yang dikatakan, bahwa mereka rela bercawe-cawe demi membela dan menjaga nilai dasar kehidupan.
Dengan kata lain, mereka justru berjuang ‘demi memuliakan sang manusia’ dan demi memuliakan kehidupan ini.
Para Profesional Pengabdi Kemanusiaan
Sesungguhnya, inilah muara keprofesionalan sebagai sebentuk sikap tulus mereka. Artinya, ilmu pengetahuan yang mampu berbakti dan mengabdikan diri kepada serta demi kehidupan nyata.
Sang kemanusiaan sejati justru sangat berharap, agar para ahli hukum dapat menjadi alat untuk memuliakan kemanusiaan.
Para polisi dan tentara hendaknya menjadi pelayan serta pengayom setia kemanusiaan.
Para pendidik dan pengajar dapat mengonkretkan perannya sebagai obor pencerah kemanusiaan.
Sehingga mereka tidak lagi laksana robot-robot penjaga kandang alias si jago kandang yang hanya nyaman dengan memuliakan dirinya sendiri.
Mari lewat opini ini, semoga kita sadar agar mampu memuliakan manusia lewat aneka profesi hidup kita.
Semoga kita segera kembali ke jalan yang benar untuk memuliakan kemanusiaan.
“Sesungguhnya Aku datang untuk melayani, dan bukan untuk dilayani!”
…
Kediri, 20 April 2024

