| Red-Joss.com | Keegoisan itu menjauhkan, bahkan memisahkan hubungan. Tapi kasih itu tanpa sekat dan menyatukan satu dengan yang lain agar kita hidup saling mengasihi.
“Hiduplah dalam kasih Tuhan!”
Perintah itu mengingatkan saya, ketika hati ini diombang-ambingkan dalam ketidakpastian.
Ketika hati saya serasa luluh lantak, tak berdaya, dan merasa gagal dalam mendidik anak-anak.
Bagaimana tidak. Seluruh anggota keluarga seakan memusuhi saya.
Padahal tujuan saya mendisiplinkan anak untuk membiasakan bangun pagi agar anak tidak jadi pemalas. Belajar yang rajin untuk bekal masa depan mereka.
Faktanya, karena sesekali diizinkan oleh Ibunya boleh bangun siang dan bersantai-ria, jika hari libur, sehingga anak jadi kebiasaan. Anak lalu berlindung di belakang Ibunya.
Sesungguhnya saya juga minta tolong istri itu untuk mendisiplinkan anak demi kebaikan mereka. Disinkronkan dalam mendidik, supaya manfaat dan tepat guna.
Ternyata ilmu ‘tarik ulur’ dan tegas pada anak itu seperti tidak mempan diterapkan, ketika anak beranjak besar. Meskipun dijatuhi sangsi, tapi anak tidak peduli.
“Malu, ribut melulu. Kita didengar tetangga,” alasan istri itu membuat saya diam, dan mengalah.
Apa yang harus saya lakukan, jika saran dan nasihat itu diabaikan?
Semula saya merasa tersinggung dan tidak dihargai. Tapi makin saya pikir, kian memberat beban di hati ini.
Saya pantang menyerah, putus asa, atau menyalahkan istri yang lemah, karena sayang pada anak. Tapi perintah Tuhan agar hidup dalam kasih (Mat 22: 37) itu jadi bahan refleksi saya untuk membuka hati.
Saya kumpulkan anggota keluarga. Bicara dari hati ke hati. Saya ingin mendengar suara mereka untuk menemukan solusi demi kebaikan bersama. Prioritas utama dan penting adalah mereka tidak salah langkah dan salah arah menuju masa depan yang baik.
Ternyata untuk memahami mereka, saya harus berani berubah untuk mengikuti ‘gaya’ pikir mereka agar tidak gagal paham. Saya ingin jadi sahabat untuk anak-anak.
Sebagai orangtua, saya harus “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Sesungguhnya, hidup ikhlas itu, jika kita mau jadi jembatan kasih bagi orang-orang kita kasihi untuk berserah dan kembali pada Allah. Karena kita semua ini milik-Nya.
…
Mas Redjo

