Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika Anda belum pernah dimusuhi anak Anda, berarti Anda belum pernah menjadi orangtua.”
(Amanat Kehidupan Sejati)
…
| Red-Joss.com | Kita hidup di zaman keterbukaan. Sebuah zaman yang sungguh menantang para orangtua yang masih menerapkan model pendekatan pendidikan tradisional.
Bagaimana misteri dari seni mendidik anak-anak generasi Z yang adalah anak emasnya teknologi.
Apakah Anda akan menerapkan pendekatan edukasi sesuai cara pendekatan Kakek dan Neneknya? Ataukah Anda akan menggunakan pendekatan gaya diktator atau dengan cara-cara yang serba komando?
Sebuah ilustrasi, sebagai refleksi edukatif untuk para orangtua dewasa ini.
Ketegasan
Ada sepasang suami istri yang kewalahan dan bahkan sangat putus asa dalam mendidik anak mereka.
Anak itu, ternyata sungguh keras kepala dan tidak peduli kepada siapa pun.
Suatu saat, keduanya membawa anak itu kepada seorang psikolog ternama.
Mereka mengisahkan kepada psikolog di saat anak itu sedang naik kuda-kudaan di rumah tetangga yang hingga berjam-jam dan ia tidak mau turun.
Saat dipaksa untuk turun, dia malah menjerit-jerit merengek dan bahkan berani memaksa orangtuanya agar jangan pulang. Padahal di rumahnya ia sudah memiliki tiga kuda-kudaan.
Mendengar ocehan itu, psikolog segera mendekati sang anak. Dielusnya kepala anak itu ramah sambil membisikan sesuatu ke telinganya.
Tampak sang anak itu turun dengan manis dari atas kuda-kudaan dan segera mengikuti kedua orangtuanya.
“Tuan, guna-guna apa yang engkau katakan, sehingga anak kami sangat patuh?”
“Sederhana. Saya hanya berkata, jika engkau tidak segera turun dari atas kuda-kudaan ini, engkau akan saya pukuli dan selama satu Minggu engkau tidak boleh main kuda-kudaan.”
(Setetes Embun bagi Jiwa)
“Jika Anda belum pernah dimusuhi anak Anda, berarti Anda belum pernah menjadi orangtua!”
Sesungguhnya, bagaimana cara paling efektif dalam proses mendidik anak?
Anak kita adalah seorang anak manusia. Dia seperti Anda, orangtuanya. Juga seperti anak-anak lainnya di sekolah atau pun tetangganya.
Mengapa seorang anak menjadi sangat nakal, sering tidak peduli, dan bahkan berani melawan orangtua dan gurunya?
Tentu anak itu butuh waktu dan proses untuk menjadi baik. Mendidik itu bukan proses yang sekali jadi. Bahkan dikatakan sebagai proses seumur hidup, bukan? (Long life educational).
Untuk itu dibutuhkan model pendekatan pendidikan yang lebih ‘tegas’ (bukan kasar), artinya kita tidak memanjakan anak lewat aneka janji manis dan kemewahan hidup.
Bagi seorang anak, sebuah cara jitu lewat tindakan akan lebih efektif dibanding wejangan panjang yang tidak dipahami sang anak (Verba docent, exempla trahunt).
Ucapkan dengan kata-kata tegas yang mampu mempersuasi anak, tapi dengan intonasi yang tetap ramah.
“Sesungguhnya anak-anakmu adalah buah hatimu, tapi mereka bukan milikmu. Mereka mempunyai alam pikiran sendiri.”
“Engkau boleh memelihara raganya, tapi tidak untuk jiwanya.”
…
Kediri, 19 April 2024

