| Red-Joss.com | Tuhan Yesus yang kita percaya dan imani itu harus kita amini.
Seberat dan sepahit apa pun hidup ini harus dijalani, dinikmati, dan kita syukuri sebagai anugerah Allah.
Karena itu aku tidak protes, apalagi mempertanyakannya: “Mengapa hal ini terjadi padaku?” Sebaliknya aku diam, berefleksi, dan mengucap terima kasih. Aku percaya, Tuhan telah merencanakan hidupku secara matang.
Aku sering kali mengalami peristiwa aneh dan tak masuk akal. Ternyata di balik kepahitan dan kegagalanku, Tuhan menyiapkan yang terbaik, bahkan melebihi yang aku impikan.
Ketika gagal, bahkan terpuruk, aku tidak menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain. Sebaliknya aku makin sujud mendekatkan diri pada Allah. Bahkan aku berani mulai dari nol lagi untuk mencoba hal-hal baru.
Aku tidak mau fokus pada masalah atau hidup yang pahit itu, tapi pada Allah yang sanggup menolongku. Jika Allah berkenan, maka tidak ada yang mustahil (Ibrani 11: 6).
Harus diakui, sesungguhnya Allah memanjakan kita dengan anugerah-Nya. Dari udara hingga segala kebutuhan kita telah tersedia. Mengapa kita tidak mau mengelolanya secara bijak?
Sesungguhnya, orang yang berbahagia itu bukan mereka yang mempunyai segala-galanya. Melainkan mereka yang sadar diri untuk taat dan setia kepada Allah.
Berbahagialah mereka yang tidak melihat, tapi percaya untuk melaksanakan firman-Nya.
…
Mas Redjo

