Serpihan Jejak Musyafir – 224
Merawat Kebun Ladang Harapan

Simply da Flores

1.
Dalam Pelukan Hujan

Di bawah payung kita bersatu
lindungi kepala dari guyuran galau
Raga kita seakan berpadu satu
Meskipun
rasa, pikiran dan nurani jauh
lantaran hujan lara mengguyur
payung kita reot dan sobek

Hujan memang bisa dihindari
tetapi cuaca tak mampu diintimidasi
apalagi dipenjara dan dibunuh
Agar
kita bebas berkelana ke mana saja
meraih tagihan selera rasa
dan menjadi tuan atas semesta

2.
Ketika Berkobar Api Cemburu

Kolam bening memeluk pelangi
Sejuta pesona menari-nari
antara sanubari dan mimpi
leburnya seribu kembang rasa hati
sukacita bahagia dua anak insani
terbakar api asmara warna warni

Ketika angin semilir menggoda
permukaan kolam ikut bergelora
Saat daun kering jatuh menikam
wajah sejuta rasa panik geram
Ketika ada hujan mengguyur
tak jelas wajah kolam
tak nampak pesona pelangi
ada tanya curiga takut kehilangan

Cemburu itu pucuk pohon bergoyang
ketika angin menguji akarnya
Cemburu itu
wajah kolam bening berguncang
ketika ada angin dan hujan
Cemburu itu
sahabat sejati rasa memiliki
Cemburu itu
duri-duri penjaga kembang mawar

3.
Sejuta Bilur dan Bercak Tanya

Menyusuri jejak langkahmu
dari Alfa ke Omega
kulihat ada yang tertawa dan menangis
Dan
Aku bingung harus bagaimana
mengingat kisah jalan salib-Mu
dari Yerusalem ke Golgota
Lebih terpesona cerita kebangkitan-Mu

Hari ini ada bilur dan bercak tanya
banjir merebak di sosial media
ada ejekan, hujatan, caci maki
pertanyakan cerita ajaib kebangkitan
Bahkan
para pengikut-Mu dibenci dan dibunuh
dengan aneka argumen brutal
“Benarkah pemuda Nazareth itu Tuhan
Betulkah Dia bangkit dari kematian
Mengapa terus bertambah orang yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat?”
Aneh tapi nyata
paradoks bersemi fakta dan tanya

Kembali ke pelataran sanubari.
Aku pandangi telapak tangan dan kakiku
tidak kulihat bekas paku
tidak ada luka dan darah
tidak ada tanya dan jawaban
Gulita malam sepi diam membisu
tanpa kata tanpa pesan
Hanya satu senyum kunang-kunang
hinggap di pendopo nalarku
lalu titip sebuah pesan
“Credo ut inteligam
Karena percaya maka aku berpikir”

4.
Benih Sanubari Jiwa

Setiap anak generasi manusia
adalah putra-putri cahaya
nur Ilahi Sang Maha Cahaya
ditabur di kebun ladang martabat alam raya
Agar mekarkan pesona seribu kembang
Agar berikan kelimpahan panen gemilang

Benih sanubari dipupuk hati nurani
dan dirawat nalar pikiran
Namun
sering dihimpit duri belukar selera rasa
dan deraan keterbatasan daya raga

Maka…
Aku mulai sadari hakikatnya
hanya rahmat Ilahi menolong insani
untuk merawat benih sanubari jiwa
hasilkan bunga dan buah berlimpah