Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang manusia memiliki dua buah mata dan juga dua buah telinga. Namun hanya memiliki sekeping hati.”
…
| Red-Joss.com | Hidup ini adalah sebuah alternatif. Artinya Anda dipersilahkan untuk bebas menjatuhkan pilihan.
Sang arifin pun telah mengedukasi manusia, agar bersikap cermat dalam memilih di antara kedua alternatif itu.
Dulu, di masa kecil, saya pernah menerima pengajaran dari para orangtua, bahwa kita perlu mendengarkan suara hati, bisikan sang Ilahi, ketika kita harus memilih.
Pesannya, janganlah kamu tergesa-gesa dan hindari sikap semau gue tanpa selektif.
Bahkan Guru agama juga pernah mengatakan, bahwa di dalam diri personal manusia itu terdapat dua versi suara hati.
Antara Suara Malaikat dan Suara Iblis
Secara rohani, bahwa seolah-olah selalu ada dua versi suara. Suara malaikat dan suara iblis alias setan yang saling bertentangan di dalam diri seorang anak manusia.
Hingga saat ini, saya masih meyakininya sebagai sebuah pengajaran yang benar secara rohani.
Seingat saya, pernah seorang Guru agama mengilustrasikan, bahwa di saat hendak bangun tidur di pagi buta, kamu menghadapi pertentangan di dalam suara hati.
Ada suara yang sangat halus merayu kamu agar jangan bangun. Bukankah ini hari Senin, nanti kamu akan lelah, karena harus mengikuti upacara bendera. Lalu menghadapi pelajaran yang sulit, dan menghadapi guru-guru yang serem. Ayo, kamu tidur saja!
Namun di sisi yang lain, terdengar sayup bisikan lembut. Ayo segera bangun. Hari ini penting bagimu untuk belajar kedisiplinan. Juga ada beberapa karibmu yang sangat membutuhkan kehadiranmu di sekolah.
“Di antara Dua Mimbar.” Di antara dua buah pilihan. Artinya di antara dua buah alternatif pilihan untuk disikapi.
Jadi, kamu mau memilih untuk mendengar dan mengikuti suara mimbar yang mana?
Antara Mimbar Kanan dan Mimbar Kiri
Mimbar di sebelah Kanan pun mempropagandakan hal-hal suci dan hidup surgawi serta janji-janji untuk hidup abadi.
Maka, hendaklah kamu hidup sesuai kehendak sang Ilahi. Belajarlah untuk mengendalikan hawa nafsu dan berbuat baik kepada sesama.
Mimbar di sebelah Kiri tidak kalah gencar mempropagandakan, bahwa hidup ini hanya sekali.
Maka, hiduplah berfoya-foya dan bersenang-senang. “Carpe diem,” kata orang Latin, nikmatilah hidup ini!
Sayang dan sungguh sayang, jika semua kenikmatan ini kamu lewati. Bukankah kelak kamu tidak membawa secuil pun dari kelimpahan ini ke liang kubur?
Bagaimana reaksi batin kamu setelah mendengar propaganda dari kedua mimbar bebas ini?
Sekali lagi, semua ini berpulang kepadamu. Karena kamu sang otoritas atas hidupmu.
Setelah mendengar dan mencermati isi serta amanat dari kedua propaganda ini, ada sebuah bisikan menyeletuk, “Saya memohon sebuah kepastian. Apakah hidup ini hanya akan berakhir di liang lahat ataukah masih ada kehidupan di balik pintu kubur?”
Berpeganglah kamu pada lengan Sang Kebenaran Sejati!
Segera masuki ke kedalaman gerbang nurani sucimu!
Dari sana, kamu akan mendengar sahutan!
…
Kediri,ย 17ย Aprilย 2024

