Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan mengobral identitas dirimu, karena engkau terpaku pada penilaian orang lain terhadap dirimu.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini diturunkan, karena saya terdorong oleh sebuah tulisan di harian Kompas, Sabtu (13/4/2024), kolom Karier, berjudul, “Apa Kata Orang?” Oleh Tim Ahli Kompas (Eilleen Rachman dan Emilia Jakob).
Berdiri dan berbicara di depan orang banyak itu merupakan ketakutan terbesar bagi sebagian besar orang.
Bahkan beberapa survei menemukan, bahwa lebih banyak orang yang takut untuk berbicara di depan umum ketimbang menghadapi kematian.”
(Tim Ahli Kompas).
Sekali pun si pembicara itu orang yang sangat ahli pada bidangnya.
Secara transparan kita mengakui, bahwa rasa grogi (butterfly in the stomach) itu bagai ada kupu-kupu di perut masih mendominasi emosi kita.
Mengapa bisa terjadi kecemasan ekstrem? Problem mendasarnya, sebetulnya tidak terletak pada penilaian orang lain, tapi justru pada ketakutan kita sendiri.
Betapa kuatnya rasa takut itu menggerogoti hati kita, sampai-sampai kita kehabisan energi keberanian.
Ternyata fenomena yang sungguh mematikan jiwa ini, pertama-tama karena pikiran dan perasaan takut secara berlebihan, di saat kita memandang orang berwajah masam, atau juga karena faktor pengalaman pahit di masa lalu.
Fenomena ini disebut “FOPO” (fear of other people’s opinion). “Apa kata orang” nanti. Inilah sebuah proses aktivasi psikologis, fisiologis, dan fisik demi menghindari penolakan.
Ternyata biangnya adalah faktor tradisi budaya ketimuran kita yang selalu terpaku pada pendapat dan penilaian orang-orang lain atas keberadaan kita.
Inilah hantu personal yang menggerogoti diri ini saat kita hendak melakukan sesuatu.
Sang monster ganas itu sebagai pembunuh berdarah dingin yang selalu menghantui dan menganvaskan kita di arena hidup ini.
Mari kita selalu berusaha untuk berani mengalahkan rasa takut itu. Karena hanya lewat sebuah keberanian yang rasional, kita akan menang.
“Anda hidup hanya sekali, tetapi jika Anda melakukannya dengan benar, sekali itu cukup.”
(Mae West)
Refleksi:
Ternyata sang monster berdarah dingin itu adalah diri Anda sendiri.
Kecemasanmu tidak melakukan apa pun untuk kemajuan dirimu!
…
Kediri, 16 April 2024

