| Red-Joss.com | “Sesibuk-sibuknya bekerja dan serepot apa pun, jangan menolak, jika rumah kita digunakan untuk sembayang lingkungan atau misa.”
Nasihat atau tepatnya wasiat alm. Bapak itu saya ingat benar dan harus saya jalankan. Meski sesibuk, secapai, dan serepot apa pun saya!
“Jangan menolak!”
Perintah itu tidak boleh dibantah, tapi datang dari kesadaran hati. Alasan Bapak, apakah kita tega menyakiti hati Tuhan Yesus yang telah menebus dosa dan menyelamatkan kita?
Makin sering rumah kita digunakan sembayangan atau misa, kian berlimpah anugerah Allah. Rumah dan penghuninya diberkati!
Menomorsatukan dan mendulukan Tuhan Yesus itu prioritas pertama dan utama dalam hidup kita yang percaya dan mengimani-Nya.
Alangkah naif, jika kita diberi kesempatan untuk sembayang lingkungan di rumah, kita merasa belum siap. Alasannya, karena sibuk bekerja, repot, rumah berantakan, dan seterusnya.
“Baik dan terima kasih,” kata Bapak setiap kali diberi kesempatan untuk sembayangan atau misa di rumah. Karena rumah Bapak cukup besar. Bahkan Bapak selalu menawarkan diri, kapan pun rumahnya selalu siap digunakan untuk sembayang lingkungan, misa, pertemuan OMK, dan sebagainya.
Bapak dengan sukacita beberes rumah agar bersih dan rapi. Alasannya, kita harus memantaskan diri, karena Tuhan Yesus berkenan hadir di rumah. Begitu pula seharusnya, jika kita ke gereja. Untuk selalu memantaskan diri menyambut-Nya dan bersatu dalam sakramentali: Ekaristi Kudus.
Menurut Bapak pula, sesungguhnya rumah yang sering digunakan untuk sembayangan itu berlimpah berkat, auranya positif, dan penghuninya damai sejahtera.
Rumah itu dapat diibaratkan pula sebagai hati kita dan pusat doa. Makin sering rumah itu digunakan untuk sembayang, kian berlimpah berkat Allah pada rumah dan penghuninya.
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

