| Red-Joss.com | Dua Emauser yang kembali ke Yerusalem sebagai inti homili pagi ini, menyinari perjalanan panjangku mencari Yesus sampai ke negeri seberang.
Dulu, awal tahun 1984, saya bermukim di Bloor Street West,101 BI, Toronto, hingga 1986. Sejak 2012 bermukim di PDK II 104, Paser
Kepada Lulu, (bukan nama asli) sahabatku yang sudah sama-sama ‘over seventy’, yang sejak muda sudah menjadi citizen di Toronto Canada, saya bercerita tentang Misa Paskahan Lingkungan, Sabtu yang lalu, dilanjutkan dengan makan bersama.
Lulu: Waduh senang, ya, bisa misa di rumah. Rumah jadi penuh berkat. Terima kasih untuk sharingnya
Saya : Benar, Misa berlanjut dengan makan bersama.
Lulu: Wah jadi ingat di UKI. Rasanya sangat menyenangkan.
Saya: Benar. Ingat sekali bagaimana Om-om dan Tante amat cinta Rosario dan Misa bahasa Indonesia. Kini mereka telah tiada.
Lulu: Yah, semua tinggal kenangan. Mereka semua sudah tiada. Pulang ke rumah Bapa.
Sekarang Lulu sudah ada di tempat antrian juga untuk pulang. Saya masuk generasi lansia seperti tante-tante yang disebut tadi. Kita menggantikan tempat mereka.
Saya: Tuhan selalu punya rencana yang terbaik, koq. Mungkin Tante Er (maminya Lulu) belum mau Lulu nyusul. Masih banyak orang muda yang butuh ketenangan dan kedamaian hati yang ada dalam dirimu.
Usia kita nyaris sama. Aku mungkin tidak ikutan antri dulu, karena masih ada hal-hal yang ingin kubaktikan untuk gereja dan bangsa ini, sekecil apa pun itu.
Tapi memang, semua kukembalikan pada rencana Tuhan untuk hidupku. Tuhan yang memberiku hidup, itulah karunia dari-Nya yang paling luhur. Aku ingin menjaga, memelihara dan memakainya sesuai dengan rencana-Nya.
Walau angin silih bertiup dalam hidupku, aku tetap ingin.. ‘uripku iki urup’ selama hayat dikandung badan.
Lulu, masih ingat bukan, saat akan ingin kutinggal Emaus, 1986 dulu, kalian mengajakku berdendang : “My peace I give unto you. It’s the peace that the world can not give. It’s the peace that the world can not understand. Peace to know, peace to give, it’s the peace I give unto you.”
Ternyata lagu itu adalah pesan abadi dari Tuhan Yesus yang harus dibawa, dihidupi, dan dibagikan oleh tiap murid-Nya, di manapun, sampai akhir hayat.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

