“Don’t live the life of I.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | “Everything around all about I.”
‘I’ adalah huruf yang populer dan disukai manusia zaman now. Lihat, ada Iphone, Ipad, Ipod, Instagram, dan sebagainya. Hidup kita juga diukur dan dilihat dari ‘aku, aku, dan aku’.
“Don’t be individualism.” Saat aku menjadi pusat, tak heran kalau ego meraja lela, kesombongan merajai hati. Sulit berbagi dan berjiwa pelit itu menghantar kita pada ketamakan dan keserakahan.
Yang dibicarakan adalah tentang aku: yang sukses, hebat, kaya, dan … berkuasa. Semua karena aku, orang lain harus menghargai, menghormati, dan tunduk kepadaku. Orang lain, bahkan Tuhan pun tak boleh mengganggu, merebutnya, apalagi ikut campur.
Tapi ingat, profesionalisme dalam pencapaian itu bersifat sementara. Semuanya itu hanya sementara dan bukan karena diri ini, tapi, karena Tuhan yang memberi.
Ganti orientasi hidupmu dari I ke Y, dari aku ke kamu, kita, dan sesama. Kesadaran ini akan membuatmu rendah hati dan mudah untuk bersyukur. Hidup banyak berkat dan menjadi berkat. Kesadaran yang membuat rumah tanggamu bahagia dan anak-anakmu dewasa. Kesadaran ini akan membuat pekerjaan dan kekayaanmu tak akan habis serta menjadi sarana penyalur-Nya untuk berbagi rezeki pada sesama.
“From I to Y,” dari aku ke Yesus. Put God first, inilah keutamaan Kristiani yang harus ada. Menjadikan Yesus sebagai pusat, bukan aku, manusia apalagi harta duniawi. Janji Tuhan jelas: “Ia akan menjadikan kamu kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Ia akan menyertai kamu sampai akhir zaman. Mintalah maka kamu akan diberi. Carilah maka kamu akan mendapat. Ketoklah maka pintu akan dibukan kepadamu.”
“Put God first.” Tidak akan dan tidak pernah rugi menjadikan Yesus sebagai pusat dan yang utama dalam hidup kita.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

