Red-Joss.com – Kunci hidup bahagia itu sederhana. Berani berkorban demi keluarga dan ikhlas.”
Potret semangat berkorban itu saya lihat jelas pada Ibu. Sewaktu kecil, saya sering melihat Ibu tidur tengah malam untuk berdoa. Bangun pagi sebelum adzan subuh. Ibu lalu menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya, sebelum Ibu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian.
Setelah pekerjaan di rumah selesai dan anak-anak pergi ke sekolah, Ibu lalu membantu Bapak untuk jualan bensin dan onderdil mobil di terminal bis.
Biasanya, setiap hari libur, saya tidur di toko menemani Bapak. Karena Bapak bakal memanjakan saya dengan aneka jajanan yang banyak pilihan itu. Saya juga diberi kebebasan main dengan teman yang rumahnya dekat terminal.
Seiring bertambahnya umur, saya makin memahami semangat juang Ibu Bapak agar kelak masa depan anak-anak lebih baik dari mereka.
Semangat juang dan rela berkorban Ibu Bapak itu terpatri dalam hidup saya. Meski saya tidak seberuntung ketiga kakak yang kuliah hingga perguruan tinggi, tidak membuat semangat hidup saya jadi loyo.
Saya juga tidak menyalahkan keadaan, karena terminal bis yang dipindah lokasinya, sehingga usaha orangtua langsung merosot drastis.
Sebaliknya, semangat hidup prihatin yang dicontohkan oleh orangtua untuk selalu bersyukur dan berserah pada Allah, membuat saya jadi pribadi yang kuat bertahan dalam menjalani hidup di perantauan.
Demi meraih hidup layak, saya juga tidak pernah pilih-pilih pekerjaan. Dari penulis fiksi, tenaga artistik, wartawan, pedagang pakaian, calo, dan sebagainya. Bukan saya bosen dengan pekerjaan itu, tapi saya ingin menemukan pasion yang sesungguhnya, dan sreg di hati.
Semangat hidup berkorban demi keluarga itu yang sekarang saya contohkah pada anak-anak agar kelak mereka juga jadi pejuang yang tangguh dan mandiri.
“Jalan hidup dan masa depan anak itu harus lebih baik, ketimbang orangtuanya. Semangat berkorban dan ikhlas demi kebahagiaan keluarga.”
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

