“Life is blind, faith isn’t blind.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Bucin alias budak cinta. Karena cinta, logika jadi buta. Karena cinta kerja, otak jadi beku. Karena cinta rasanya dunia ini milik berdua. Benarkah semua itu? Ada benarnya juga, kalau cinta itu eros dan philia. Namun kalau cinta itu agape pasti ada nilai luhur nan mulia yang diperjuangkan, dikejar meski harus dibayar dengan pengorbanan, bahkan juga linangan air mata.
Cinta itu boleh buta, tapi ingat iman tidak boleh buta. Iman itu butuh kesadaran, rasa, misteri, intuisi dan logika, ini yang menjadikan iman tidak buta. Meski kadang ada juga, karena membela ajaran agama dan iman yang membabi buta, membunuh, bahkan katanya semua itu atas nama dan perintah Tuhan yang diimaninya.
Sesungguhnya sumber kasih dan cinta yang sempurna ada pada-Nya. Kasih Tuhan tidak pernah menghancurkan, tapi menghidupkan. Tidak pernah menyakiti, tapi menyembukan. Tidak pernah menghukum dan menghakimi, tapi mengampuni. Kasih Tuhan tidak pernah merendahkan dan menyingkirkan, tapi menerima dan memperkaya … Di sinilah iman mempunyai dasar kokoh pada kasih: kasih kepada Tuhan yang mencakup jiwa, hati, akal budi dan tenaga. Kasih kepada sesama.
Ingat kita mempunyai Tuhan, dan iman yang menjadikan ‘imposible’ menjadi i’am posible. Kalau saat ini kita di-PHK, dan penghasilan menurun drastis, kita mempunyai Dia yang mengatur rezeki. Kalau saat ini kita sakit, ada Dia sang penyembuh sejati. Jika kita harus berjuang merawat orang sakit dan banyak berkorban, ada Dia yang telah lebih dulu berkorban dengan di salib. Jika saat ini kita jadi miskin, bisnis rugi dan tabungan habis, jangan panik, kita mempunyai Dia yang menjadikan kita kaya.
Semua pergulatan dan beban hidup ada masa dan saatnya. Yakini, bahwa semua itu pasti berlalu dan indah pada akhirnya, bila kita mengandalkan dan berharap pada-Nya.
So tetaplah hidup yang diterangi oleh keyakinan, harapan, dan cinta. Cinta itu buta, tapi iman tidak buta.
Deo gratias.
…
Edo/ Rio, Scj

