Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika engkau punya telinga bisa mendengar burung berkicau, engkau tidak perlu melihat surat kepercayaannya.”
(Anthony de Mello, SJ)
…
Keaslian
| Red-Joss.com | Sang Guru tidak pernah terkesan oleh ijazah dan gelar. Ia meneliti pribadi orang, bukan dari tanda tamat belajar.
Sekali terdengar ia berkata, “Jika engkau punya telinga bisa mendengar burung berkicau, engkau tidak perlu melihat surat kepercayaannya.”
Saya sempat mendengar celetukan, bahwa ijazah itu hanya tanda seseorang pernah belajar dan bukan dari tanda kecerdasannya.
Bahkan secara ekstrem dikatakan pula, bahwa “ijazahmu bukan jaminan akan kualitas dirimu.”
Selama ini, secara psikologis kita mengetahui, bahwa seorang anak manusia memiliki kecerdasan ganda (Teori Inteligensi Ganda) Howard Gardner.
Berikut ini kesaksian Paul Suparno dalam Kata Pengantar bukunya yang berjudul, “Teori Inteligensi Ganda” dan Aplikasinya di Sekolah.
Beliau menulis, bahwa cukup lama orang beranggapan bahwa IQ (Intelligence Quotient), merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Bila IQ-nya tinggi, maka orang itu akan sukses dalam belajarnya dan akhirnya sukses dalam kehidupan yang nyata.
Ternyata pernyataan itu tidak selalu benar. Ada banyak orang yang IQ-nya tinggi, tapi gagal dalam hidup.
Maka disadari, bahwa meskipun IQ sangat tinggi, bukanlah segala-galanya. Meski IQ sangat penting, tapi bukan jaminan segala-galanya.
Sekarang ditemukan pentingnya EQ (Emotional Quetient) dan juga SQ (Spiritual Quetient). Kedua kecerdasan ini harus diperhatikan agar seseorang dapat berhasil.
Jadi, sungguh tepat pernyataan sang Guru, bahwa beliau tidak terkesan akan ijazah dan gelar seseorang.
Baginya justru yang lebih penting dan utama adalah pribadi serta karakter personalnya.
Beliau menyodorkan sebuah analogi bebas, “Jika engkau punya telinga bisa mendengar burung berkicau, engkau tidak perlu melihat surat kepercayaannya (STTB).
Dalam konteks yang sangat penting ini, hendaklah kita belajar untuk rela mengubah paradigma lama kita, dan menyadari pentingnya aspek kecerdasan emosi serta spiritual di dalam diri seorang anak manusia.
Idealnya, akan sangat dasyat, jika terjadi perpaduan dan penyeimbangan antara ketiga kecerdasan itu (IQ, EQ, dan SQ).
Kini sadarlah kita, bahwa kemuliaan dan keagungan seorang anak manusia, tidak terletak pada gelar dan ijazah yang dimilikinya. Tapi pada aspek totalitas kepribadiannya.
“Aku berpikir, maka aku ada, dan bukan aku ada karena aku berijazah!”
…
Kediri,ย 11ย Aprilย 2024

