| Red-Joss.com | “Apa reaksi kita, ketika direndahkan di depan orang lain?”
Malu, marah, kecewa, sakit hati, dan, jika bisa kita ingin balas dendam!
Hal itu pernah saya alami. Saya dipermalukan oleh Bos di depan bawahan saya. Padahal saya urun saran. Jikapun dianggap bersalah, alangkah bijak, jika saya ditegur dengan baik, dan di bawah empat mata!
Tidak demikian dengan Bos. Karena perusahaan itu miliknya, saya harus menurut padanya!
Bos memberi diskon besar kepada pelanggan yang bayar di muka. DO. Barang itu dikirim bertahap, sesuai permintaan pelanggan. Jadi uang itu sebagai tabungan. Kesannya, Bos berhutang. Sedang bunga bank itu amat kecil. Jadi DO itu untung besar, karena harga cenderung naik.
Saya sangat menyayangkan sikap dan keputusan Bos. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa.
Jika menuruti emosi, karena dipermalukan di depan karyawan, saya ingin ke luar kantor dan pindah kerjaan. Membela perusahaan, tapi dituduh menghambat uang yang masuk ke perusahaan. Padahal rugi. Duh!
Saya menarik nafas mencoba kendalikan diri dan bersikap tenang. Bisa jadi Bos sedang mempunyai masalah, jaga wibawa di depan karyawan, atau?
Meski kecewa dengan keputusan Bos, bahkan dianggap tidak bisa bekerja, sebelum pulang saya ke ruangan Bos lagi.
“Bos, jika dianggap salah, saya minta maaf,” kata saya jujur. “Tapi tolong dihitung ulang. Harga-harga cenderung naik. Kita agen. Jangan sampai kita merugi.”
“Terima kasih diingatkan. Saya tadi telepon ke Pusat untuk konfirmasi harga. Yang kau katakan itu benar. DO itu tidak jadi kita terima. Besok kau jelaskan ke pelanggan,” kata Bos sambil tersenyum.
Saya mengangguk, mengucap terima kasih. Lalu saya ke luar dari ruangan Bos dengan dada yang lega, dan plong.
…
Mas Redjo

