WA dari teman pelayanan masa lalu: ” Good evening, Pak Stev… Mohon dibantu, kalau ada materi dan ayat di Alkitab untuk penghiburan keluarga yang meninggal beberapa hari yang lalu. Rencana ibadah penghiburan hari Minggu saya ditunjuk untuk membawa renungan.”
Jam itu (20.45) saya masih di sekitaran Puri Indah. Ada ‘loving service without end’ yang sedang kujalankan.
Terharu saya pada temanku itu. Dalam keterbatasanku semalam, kukirim tulisan berikut ini:
Salah satu ucapan berbahagia dari khotbah di bukit adalah:
“Berbahagialah orang yang berdukacita karena mereka akan dihibur.”
Setiap baris dari perkataan Yesus dimulai dengan kata ‘berbahagialah’. Tetapi Yesus tidak berkata berbahagialah mereka yang semua impiannya menjadi kenyataan, atau berbahagialah saat semuanya berjalan sesuai dengan keinginan. Yesus berkata berbahagialah mereka yang berdukacita, berbahagialah mereka yang bersedih hati. Karena setiap kita memiliki kisah masing-masing, perceraian, kehilangan pekerjaan, konflik, penyakit, ditinggalkan orang yang dikasihi, belum dikarunia anak, dan berbagai kisah lainnya. Setiap kita memiliki kesedihan, karena seperti yang dikatakan dalam Pengkhotbah 3: 4 ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa. Tapi Tuhan memiliki rencana di balik kesedihan kita.
Maaf kawan kalau tidak pas, tapi keinginan tulus saya akan selalu cocok. RIP untuk saudaranya.
Semoga penghiburan sampai ke relung hati.
Salam sehat berlimpah berkat.
Jlitheng

