Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan kau mengakhiri nafas hidupku, relakan aku bersanding di sini.”
(Amanat Hidup Bahagia)
Saya masih sempat mengingat sebuah peristiwa, saat kami, para siswa asrama akan berpisah setelah tamat dari bangku pendidikan SPG (1977).
Kami, dalam suasana sedih dan terharu, sedang bersiap-siap untuk berfoto bersama di depan gedung asrama warisan Belanda.
Di saat degup nafas kami tersengal sedih dan wajah-wajah polos kami fokus memandang ke arah fotografer, seorang di antara kami berteriak, “Stop, sebentar!”
Apa maksudnya dan apa yang akan terjadi? Dia segera ke luar dari posisi berdirinya. Dengan tangan kekarnya ia menarik mematahkan setangkai bunga yang menjulur.
Rupanya baginya, juluran lenturan dari setangkai bunga itu sangat mengganggu pemandangan di dalam foto kami.
Dengan tangan kasar dan sikap tidak peduli, dilemparkannya remukan tangkai bunga itu ke dalam taman. Kami meneruskan adegan berfoto lagi.
Ingatan dan kenangan pahit akan sikap serta cara kawan seangkatan itu mematahkan setangkai bunga, telah menginspirasiku dengan tindakannya yang tidak terpuji. Karena ia sangat gampang mengakhiri dan bahkan membunuh sebuah kehidupan dengan sadis.
“Engkau telah remukkan aku.”
Di dalam refleksi dan imajinasiku, seolah setangkai bunga yang terjulur itu hidupnya telah berakhir.
Inilah sebentuk keluhan dan ratapan akan nasib serta ketidakberdayaannya.
Sesungguhnya, sudah sangat sering di dalam hidup kita terjadi hal serupa.
Karena berkuasa dan memiliki kedudukan terhormat, orang sangat gampang dan rela menyakiti serta melukai nurani sesamanya.
Orang rela bertindak dan bersikap semena-mena, asal niat serta ambisi brutalnya dapat terjangkau.
Orang juga berani membayar sangat mahal untuk membayar pembunuh berdarah dingin untuk mengakhiri nyawa seorang saingan politiknya.
Dalam konteks ini, sang manusia, justru tengah mempertontonkan naluri kebinatangannya secara brutal nanar.
Di manakah naluri suci, selayaknya seorang anak manusia?
Jika demikian, maka sungguh benar, bahwa manusia itu sejatinya hanyalah seekor hewan yang berakal budi!
Kediri, 7 April 2024

