Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Integritas adalah sikap kesesuaian antara kata dan tindakan.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Dulu, sang orator alias singa podium kita, Bung Karno yang juga adalah Proklamator kemerdekaan bangsa, saat berpidato beliau pernah menggunakan kata bunglon alias plinthat-plinthut, yang kini sudah dipersingkat jadi plin-plan.
Dalam khasanah kosa kata bahasa Indonesia, kita mengenal sejumlah bentuk kata yang berasal dari bahasa daerah Jawa (dwilingga salin swara) alias pengulangan kata dengan perubahan bunyi.
Ada pun selain ‘plinthat-plinthut, juga terdapat kata โmubra-mubru, grusa- grusu, mrane-mrene, klithah-klithih, modhal-madhul, wira-wiri, dan juga mbalok-mbalikโ.
Selain menggunakan kata plinthat-plinhtut beliau pun menggunakan kata bunglon sebagai sinonimnya.
Sedangkan kandungan sebuah kata dalam bahasa itu terdapat dua unsur. Selain unsur pemaknaan (kognisi), juga terdapat unsur rasa (emotif).
Di dalam konteks itulah, beliau menggunakan kata plinthat-plinthut alias bunglon.
Ada pun kedua kata bersinonim ini, mengandung makna yang berkonotasi buruk. Mengapa?
Karena mengandung pengertian sikap โinkonsistensiโ, sikap yang mudah berubah-ubah bagai si bunglon.
Hingga kapan pun bunglon itu tetap mengandung konotasi jelek di mata warga masyarakat. Karena ia mencerminkan sikap abu-abu.
Padahal di sisi lain, warga masyarakat kita pun sudah terlanjur menjunjung tinggi sikap pada tokoh yang berintegritas.
Kini, warga masyarakat kita sudah sangat cerdas dalam memilih karakter seorang pemimpin. Maka, pribadi bunglon alias si plin-plan, dengan sendirinya akan tersingkir.
Maka, marilah kita terus berupaya untuk mendidik generasi baru lewat sikap dan cara-cara beradab.
Lewat sikap-sikap yang menjunjung tinggi moral dan etika dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa.
…
Kediri,ย 5ย Aprilย 2024

