“Amukan angin kencang di pantai itu meluruhkan kepercayaan Petrus, sehingga kakinya terperosok ke air membuat ia nyaris tenggelam, jika tidak ditolong oleh Yesus” (Mat 14: 29-31).
…
| Red-Joss.com | Badai kehidupan itu bisa menerjang siapa pun, dan tidak pandang bulu.
Begitu pula yang dialami pasangan kekasih AN & GP. Ketika hubungan mereka tengah bermasalah, muncul kabar dari orang ketiga pada AN, lewat chat. Bahwa GP telah menghamilinya!
Tubuh AN berguncang hebat. Kabar itu bagai petir di siang bolong. Jadi kabar itu benar?
AN menghela nafas panjang untuk menenangkan diri, meski hatinya sakit dan perih sekali.
Padahal, dengan berbesar hati AN telah memaafkan GP yang berani jujur mengakui perbuatan khilafnya. Tapi kini…?
AN memejamkan mata. GP seperti menghindar, bahkan menjauhi AN. Telepon dan chatnya tidak dibalas! GP mempermainkannya. Duh!
“Jangan mudah menyalahkan atau menghakimi orang lain. Lebih baik cari kebenarannya dulu,” kata saya menenangkan hati AN yang curhat pada saya. AN sudah saya anggap seperti anak sendiri. “Bukan berarti Bapak membela anak, lho. Memang hp GP rusak lagi, sekarang ia ke Roxy.”
Saya genggam tangan AN yang gemetar.
“Jika GP menghamili gadis itu, pasti dia atau orangtuanya bakal ke rumah. Nyatanya tidak. Apakah AN kenal gadis itu?”
“Tidak, Pak!”
“Nah! Bagaimana gadis itu tahu nomor telepon AN? Bisa jadi, maaf, dia mau menghancurkan hubungan kalian. Jangan mudah percaya kabar dari sepihak. Tunggulah GP, karena ia pergi dari tadi. Bapak panggil Ibu untuk menemanimu, ya.”
Saya menarik nafas, lalu beranjak ke dalam.
Dari AN, saya seperti disadarkan pentingnya berkomunikasi dalam membangun hubungan, baik dengan anggota keluarga dan sesama.
Faktanya, kita lebih mudah melihat ke luar untuk mengalahkan dan menghakimi orang lain, ketimbang membuka hati untuk refleksi diri. “Ada apa dengan saya, sehingga ia bersikap dan melakukan hal itu?”
Petrus melihat Yesus berjalan di atas air. Jika Petrus percaya dan mengimani Yesus, seharusnya secara totalitas. Keraguan dan kekhawatiran itu membuat Petrus terperosok ke air.
Begitu pula dengan AN. Seharusnya ia minta kejelasan GP dulu, bukan membabi buta dan asal menuduh. GP berani mengakui kekhilafannya untuk meminta maaf, serta berjanji pada AN agar tidak mengulanginya lagi. Benarkah GP ingkar janji?
Kesempatan, memberi kesempatan pada GP itu seharusnya diberikan AN untuk membuktikan janji GP. Tapi tidak dengan tuduhan untuk menghakimi.
Sebagai orangtua, saya berdoa untuk mereka. Semoga mereka diberi yang terbaik oleh-Nya.
…
Mas Redjo

