Simply da Flores
…
1.
Monas, MK dan Istana Merdeka
Jutaan bola mata nanar
melumat kilau 45 kg emas
yang merana di telapak angkasa
Deru debu lumpuhkan pijar kilat
Hujan mengguyur sejuta rindu
Para Hakim Konstitusi berjibaku
membedah cahaya kebenaran hukum
“Memutuskan berdasarkan hati nuraninya”
Putih warna tembok di Istana Merdeka
dijaga tiang sang Saka Merah Putih
Monumen Nasional – Monas tegap berdiri kaku
setia mengawasi wajah yang galau
dalam tarian angin dan deru debu
Di Utara ada Istana Merdeka
Di Barat ada gedung Mahkamah Konstitusi
Kendaraan hilir mudik di jalanan
Para penjual jalanan mengayuh sepeda
Deru debu terus berpesta
merayakan “Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
2.
Wajah dan Sosok Kebenaran
Berkilau di antara deru debu
Bersinar di tumpukan arang hitam
Menari di dalam gulita
Bernyanyi di deburan ombak
Tersenyum di tumpukan sampah
Seindah wajah purnama jingga
Mempesona laksana sosok pelangi
Setiap pribadi memberi arti
Kebenaran itu…
petir bagi jiwa sanubari
kilat bagi hati nurani
angin badai bagi nalar pikiran
guyuran hujan pada selera rasa
surga narkoba pada puaskan raga
Dan
Senyum mentari pagi menghalau malam
Pesona senja hari menyambut gulita
Setiap orang menoreh makna
3.
Deru Debu Harapan
Pesta pora perayaan kebebasan
jejak telapak dan deru debu
Entah di hamparan padang gersang
Entah di bentangan pasir pantai
Entah di kebun ladang kekeringan.
Entah di kampung udik
Entah di kota metropolitan
Bahkan di rumah keluarga dan kamar pribadi
Burung-burung terbangkan rindu
Angin membagikan damba sanubari
Kebenaran itu mimpi insani
dengan wajah sejuta pelangi
Dikotbahkan para tokoh spiritual
Dikaji para bijak pandai
Ditanam dan dirawat para petani
Dijala dan dipancing para nelayan
Dikejar dan dicari para musyafir
Dikumpulkan para pemulung sampah
Dipeluk dan dirangkul para pengemis
Sahabat bermain anak-anak kecil
4.
Para Pemilik Kebenaran
Para gelandang memanah mentari
menjerat sinarnya dengan jemari
Para pengemis mendandani purnama
dengan ketakpastian dan penolakan
Para yatim piatu melukis tanya
pada lembaran asa yang tersisa
Para difabel membagikan jawaban
dengan senyum kepastian ketakberdayaan
Para musyafir dan pertapa
memburu bayangan wajah kebenaran
dalam rahim hening gulita tanya
Para seniman pentaskan keindahan
Kawinkan jutaan tanya dan jawaban
dalam pesta deru debu dan pelangi
Setiap orang menabur benih kebenaran
pada hamparan angkasa biru
dan luasnya samudra nirmala
5.
Keadilan Berdasarkan KYME
Tulisan Itu jelas dan pasti
tertera pada lembaran resmi
“Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”
Agar terlahir beranak pinak generasi pewaris kebenaran
puas dahaganya dan kenyang laparnya
Rindu damba yang mengakar
pada doa jiwa raga musyafir
yang mengejar sinar cahaya fajar
“Tuhan Yang Maha Esa*
kumpulan kata yang merana
terbelenggu dalam penjara sandiwara
terus lera menderita merana
Karena hanya dianggap kata penghias
Karena cuma tulisan tak bermakna
Karena selalu diabaikan maknanya
Karena kalah dengan tahta, harta dan senjata
Bahkan
Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
hanya dijadikan tameng dan tumbal
Hukum dibuat oleh manusia
untuk dilanggar dan dimutilasi
Keadilan dilahirkan sejuta wajah makna
Kebenaran adalah deru debu beterbangan
Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah
Kebenaran korban permainan angin dan badai
…

