Simply da Flores
…
1.
Embun pagi membagi cahaya mentari
pada rerumputan dan pepohonan
Kawanan pipit memanen tanpa menabur
Hari baru ditulis pada bola mata
Dataran bukit gunung berbaris
menanti jejak telapak berkelana
Sungai danau pantai samudra angkasa
menunggu jemari menoreh kata
Kisah cerita warna jiwa raga
2.
Ibu bumi terluka parah
menangis merintih tanpa kata
disayat belati ketamakan manusia
ditikam tombak kerakusan penguasa
Dan
anak generasi saling membunuh
Padang gersang ditelan bara nafsu
lahirkan puing arang dan debu
Asap kesombongan mengejar angkasa
ingin mencakar merobek mentari
dengan kuku tajam ketakwarasan
Polusi berserakan di mana-mana
3.
Gemerlap kecerdasan menari-nari
di pelataran kota dan kampung
Roda zaman berpesta pora
rayakan kemenangan atas jagat semesta
yang dipenjara di layar gadget
dikendalikan jari jemari
puaskan selera diri pribadi
Karena data digital siap melayani
Kearifan leluhur tinggal puing-puing
Nilai hakiki menjelma serpihan mimpi
Moralitas digantikan dongeng kartun
Tata Krama diinjak angka dan iklan
Nafas zaman adalah serba instan
4.
Desir darah deras mengalir
Pagi siang dan sore hari
iringi langkah cahaya mentari
Namun…
kecanggihan iptek menelan gulita
mengubah malam pun menjadi siang
Detak waktu terus berpacu
merangkul bumi dan isi semesta
Namun
generasi digital yakin mengubah semua
Perintahkan isi jagat dengan jemari
gantikan alam dengan teknologi
Inkarnasikan manusia menjadi data sakti
untuk meraih bahagia abadi
5.
Deru mesin hasrat bergelora
menangkap senja dan mengusir pergi
Gulita malam dibunuh gemerlap lampu
alam harus dikuasai dan dilumpuhkan
Kehebatan pikiran harus diagungkan
agar semua selera nafsu terpuaskan
Manusia adalah raja dan Tuhan
Mentari juga sekarat terkapar
sinarnya jadi serpihan puing
cahayanya seperti debu dan arang
di hamparan sanubari jiwa manusia
dan ruang pikiran para penguasa
menjelma dalam angka dan kata-kata
…

