Red-Joss.com – Dalam perbincangan, suatu hal yang biasa saya hindari dan jauhi adalah curhat. Bukan saya apriori, malas mendengar, atau tidak punya perhatian dengan masalah orang lain. Melainkan saya tidak mau hidup ini dipenuhi keluhan, sambat, atau hal negatif lainnya.
Jika, sekalipun itu curhat, lebih baik bicara tepat pada sasaran, topik, atau pokok bahasan, sehingga tidak bertele-tele, membuang waktu percuma, dan membosankan!
Jujur, saya lebih senang, jika dalam suatu perbincangan itu diisi dengan hal-hal yang positif dan produktif, ketimbang membicarakan aib orang, misalnya. Hal-hal jelek dan negatif itu meracuni hati. Tapi hal baik dan positif itu bermanfaat untuk kebaikan bersama.
Jadi, maaf dan jangan tersinggung, jika teman yang bicaranya mbulet dan diulang-ulang, segera saya potong, cuwekin, atau saya tinggal pergi.
Kenapa saya menghindari, bahkan menjauhi curhat? Karena saya tidak mau terjerat ke dalam perangkap yang dipasang oleh orang yang tidak bertanggung jawab itu.
Perangkap? Ya! Coba amati, lihat, dan renungkan. Atau kita sendiri yang sengaja, atau membiarkan diri masuk perangkap orang yang curhat itu?
Curhat itu tidak salah. Bahkan dengan curhat, kita melepas beban masalah, persoalan, atau unek-unek. Sehingga dada ini merasa lebih ringan dan longgar. Apalagi, jika curhat itu memperoleh jalan ke luar dari akar masalah. Kita pun bebas dari himpitan pikiran dan stres.
Sekiranya curhat itu terus berulang, dan dilakukan tanpa ada pihak ketiga, hal itu yang harus segera diwaspadai. Apalagi, jika curhat itu hal yang sensitif, masalah keluarga, atau konflik dengan doi.
Perhatian boleh, dan berempati itu juga tidak masalah. Asalkan kita tidak terseret, atau lebih gila lagi, jika kita memancing di air keruh alias memanfaatkan hal itu untuk kepentingan pribadi.
Nah! Sekiranya kita hendak curhat, hindari untuk menjelekkan atau membuka aib orang agar kita tidak kehilangan kehormatan, harga diri, dan tampak makin jelek.
Begitu pula, jika kita sungguh berempati dan peduli pada teman yang curhat itu, kita harus berani membatasi diri dan bersikap tegas untuk menyudahi, alias stop!
Ingat, dan harus disadari. Kita juga harus menghormati pasangannya, doi, atau orang-orang terdekat dan yang menyayangi kita. Kelak, agar tidak ingin timbul kesalah-pahaman yang mencemari nama baik dan kehormatan sendiri.
Aib itu sulit dicuci dan dibersihkan, bahkan dibawa hingga mati. Tapi nama baik dan kehormatan itu permata jiwa yang harus dijaga sebagai pusaka keluarga.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

