| Red-Joss.com | Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, dalam suatu akhir khotbah Paskah pernah menyerukan: “Umat Katolik hendaknya tidak merayakan Paskah saja, tapi menjadi manusia-manusia Paskah. Artinya jadi manusia yang berdampak positif bagi sesama dengan melakukan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi bangsa Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Semakin diwarnai oleh korupsi, mafia, hingga pamer harta atau flexing dan makin mjadi kebiasaan sehari-hari. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan berhati semakin pupus kadarnya.
Apa dan siapa manusia Itu? Secara etimologi, kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, yakni dari kata ‘manu’, dan dari bahasa latin yakni ‘mens’ yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Oleh karena itu, sesungguhnya manusia adalah makhluk berpikir (homines autem cogitandi creaturae). Dengan demikian, melalui akalnya manusia, sesungguhnya tahu membedakan mana yang baik yang harus dilakukan, dan mana yang tidak baik yang tidak perlu dilakukan. Itulah fungsi dari akal budi manusia. Manusia juga memiliki hati, sebagai pusat pertimbangan, dan tempat perjumpaan dengan Tuhan.
Namun, fakta berbicara lain, bahwa banyak manusia yang berakal budi itu, justru akalnya tidak dipakai dan hatinya pun tidak. Artinya akal sehatnya tumpul dan hatinya telah membatu.
Paskah harus terus menerus membawa perubahan dan dalam skala masing-masing, kita mesti berani menjadi ‘justice collabolator Ilahi’ demi kesejahteraan bersama.
Salam sehat dan berkat Paskah.
…
Jlitheng

