| Red-Joss.com | Ketika memutuskan untuk menikah, saya harus berani berubah. Dasar pemikiranku sederhana, cinta yang bertanggung jawab itu harus saling membahagiakan.
Jujur, untuk berubah itu hal yang sulit bagiku, karena terbiasa hidup tidak kenal aturan dan cenderung seenaknya.
Calon istri mau menerima saya apa adanya, tanpa melihat masa lalu dan status saya.
“Jika Mas sungguh mencintai saya, dan mempunyai komitmen untuk berubah, ayo, kita jalani dan hadapi bersama,” katanya serius, bahkan tanpa memandang rendah status saya. Karena, jika bicara pekerjaan dan gaji, saya malu hati. Bedanya bagai bumi dan langit.
Hati saya seperti ditohok cinta nan lembut. Saya seperti dijamah dan disadarkan dengan firman-Nya, ketika kami mengikuti Kursus Perkawinan.
“Baik buruknya seorang itu ditentukan oleh hatinya. Kerena itu, jagalah hatimu baik-baik, sebab hatimu menentukan jalan hidupmu”
(Amsal 4: 23).
Karena cinta yang bertanggung jawab itu saya belajar menahan diri. Saya membuka hati untuk melihat hal baik dan positif pada dirinya. Saya mengurangi aktivitas di luaran yang tidak penting, tapi makin fokus bekerja demi keluarga.
“Pekerjaan sekecil apa pun yang didasari cinta, hasilnya luar biasa,” nasihat Bunda Teresa itu sungguh menyihir saya untuk berubah. Sekali lagi, demi keluarga.
Kini, jika ada teman meledek saya sebagai suami yang takut dengan istri, saya menanggapi olok-olok itu dengan senyum lebar mengiyakan.
“Benar, karena istri mensuport saya habis-habisnya, saya jadi berubah. Saya menghargai, menghormati, dan berterima kasih padanya,” tegas saya. Mengakuinya dengan jujur.
Sesungguhnya, pekerjaan sekecil dan seremeh apa pun, jika kita lakukan demi Yesus yang disalib, hati ini ikhlas dan bahagia.
…
Mas Redjo

