| Red-Joss.com | Misa Kamis Putih ke 2 di Sanberna dimulai pada jam 20.30. Berdua dengan istri kami duduk di ruang bawah. Sesaat akan duduk, seorang panitia dari jauh melihat, lalu mendekat, menjabat tangan dan sambil merunduk dia mencium tanganku. Tanpa kata.
Cium tangan sebagai ungkapan rasa hormat itu lazim. Bagaimana dengan ‘cium kaki’ oleh Imam kepada umat? Walau tidak lazim pernah dilakukan. Pada Kamis Putih tahun 2015, ada Romo Katedral Bogor yang mencium kaki umat pada acara pembasuhan kaki. Paus Fransiskus melakukan untuk kaki narapidana. Bisa jadi tanda apa?
Simbol pembasuhan kaki yang dilakukan menunjukkan sebuah keteladanan dalam melayani, mengasihi, dan mengampuni terhadap sesama.”Kalau Aku, Guru, mencuci kakimu, maka lakukanlah ini diantara kamu” (Yoh 13: 1-17).
Warna liturgi Kamis Putih tidakk tentang warna pakaian atau bunga yang serba putih, nyatanya penutup salib di atas altar warna ungu. Putih tertuju pada Holy: bersih, suci, dan merunduk dalam melayani. Makin tinggi jabatan kita, kian dituntut kesanggupan untuk merunduk. Membasuh kaki umat itu bukan hanya simbolik, melainkan begitulah seharusnya agar umat sampai pada ‘union of likeness’ (persatuan keserupaan) dengan Sang Guru.
“Sanggupkah?”
Salam sehat dan selamat bergabung dalam keheningan Jumat Agung.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

