| Red-Joss.com | Setelah pada Minggu Palma Yesus mendemonstrasikan Diri-Nya sebagai ‘Raja Damai’ yang memilih ‘Pola Hidup Sederhana’, dengan memilih naik keledai di setiap Keuskupan. Pada hari Selasa dalam Pekan Suci, Uskup memimpin Misa dan Berkat Minyak Krisma, orang sakit dan katekumenat. Seiring dengan itu, semua Imam yang hadir, (sehari sebelumnya rekoleksi dan menerima Sakramen Tobat), pada saat itu membaharui ‘Janji Imamat’, mereka bersama dengn Uskup sebagai Imam Agung dalam hidup ‘murni, taat’ dan ‘sederhana’.
Pagi ini, saya berandai-andai, bahwa pada Misa Kamis Putih, di paroki kami, di awal misa, Imam, semua DPP Inti, Pleno dan Kategorial, di hadapan umat yang hadir, memperbaharui janji mereka dengan doa seperti yang diucapkan oleh Uskup KAS yang sederhana, tapi mentes sekali,
(1) Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memilih dan memanggil kami menjadi milik-Mu yang kudus, meskipun kami orang berdosa.
Tuhan, kasihanilah kami
(2) Di antara umat-Mu, Kau juga memilih orang-orang yang Kau beri kepercayaan melayani umat-Mu, meski mereka penuh kelemahan.
Kristus, kasihanilah kami
(3) Engkau menghendaki agar kami saling mengasihi dan menyerahkan diri demi pembangunan Gereja-Mu serta pewartaan Injil bagi segala bangsa.
Tuhan, kasihanilah kami.
Memperbaharui pola hidup dan pelayanan sederhana ini sangat mendesak dalam melayani umat yang sudah dikungkung cara hidup hedonis materialistis. Ukuran bahagia bukan relasi dengan Tuhan, melainkan materi. Bukan keledai, melainkan Mersi.
Hidup sederhana seringkali dianggap sebagai tantangan besar dalam dunia yang serba materialistik ini. Namun, bagi sebagian orang, hidup sederhana bukan hambatan, melainkan jalan menuju kedamaian batin. Bahkan hidup sederhana bisa dimaknai sebagai sebuah fase melakukan refleksi diri, menata ulang prioritas hidup, dan menyiapkan diri untuk berusaha lebih keras lagi dalam hidup yang dijalani. Bersama Kristus Sang Raja Sederhana.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

