Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kala sang mata sadar ini mulai hilang sadar, dan tatkala sang nurani suci ini, pun mulai sirna tulus; maka yang tersisa hanyalah redup bola-bola mata rabun nan hampa.”(Amanat Hidup Sadar)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini merupakan sebuah refleksi personal (saya), atas seluruh realitas hidup kita sebagai sebuah bangsa yang kian gonjang-ganjing.
Sang Rabun Senja adalah tokoh fiktif dan imajinasi belaka.
Namun, kandungan isi ketulusan nurani suciku ini, mohon jangan dipandang sebelah mata.
Artinya, dengan seluruh ketulusan dan kejujuran, saya berusaha untuk mengekspresikan seluruh kegelisahan saya ke dalam sebuah deskripsi berupa sebuah tulisan refleksi bermakna.
Bahwa segala sesuatu yang berwujud pun sesuatu yang tanpa wujud (non materi), semuanya memiliki makna spesial sesuai eksistensinya.
Jika seorang berpendapat, bahwa hal itu bermakna, dan seorang lain lagi berpendapat, hal itu tidak bermakana, itu pun suatu pandangan yang serba relatif.
Artinya, benar atau tidaknya, sesuatu itu, sangat bergantung pada daya dan kualitas pemahaman serta persepsi personal terhadap keberadaan sesuatu itu.
Jadi, dalam konteks ini, tidak perlu ada penggiringan opini untuk membenarkan atau mempersalahkan pihak lain. Sekali lagi, hal itu adalah sesuatu yang sangat relatif.
Bagiku, sang rabun senja itu telah tega memainkan lengan perkasa serta nurani culasnya secara gila-gilaan. Dia ibarat gladiator rabun yang turun ke arena demi sekadar memainkan tajam mata pedangnya atas nama kuasa semata.
Maka, bukankah para diktator dan manipulator itu, justru dilahirkan dari rahim sang Bunda bermata rabun ini?
Dengan seluruh upaya dan siasat jahatnya, ia pun rela serta tak tega untuk mengorbankan apa saja, asal niat serta tujuan jahatnya itu dapat terjelma.
Sesuai hukum alam, bahwa secara cepat atau lambat, bahwa segala sesuatu yang rapi terbungkus pun akan terkuak serta tercium bau paling busuk yang menyeruak ke seantero arena publik.
Dari sana, lahirlah aneka reaksi dan tanggapan. Dalam konteks ini, maka hukum kehidupan pun mulai berlaku, “ada aksi, maka ada reaksi.”
Sebuah kondisi serba khaos pun akan terjelma dan suasana hidup bermasyarakat pun akan kacau balau laksana menyulutkan bara api amarah.
Kini saya teringat sebuah pesan kearifan, bahwa walau onak dan duri itu dapat hidup bersama, namun selalu ada batasnya.
Karena bagaimana pun juga, entah lewat gerbang nalar waras dan atau lewat sekeping nurani suci; bahwa segala sesuatu akan berujung dan berakhir tepat pada waktunya.
Kita juga meyakini, bahwa janji paling dasyat ini bukanlah sekadar sebuah gertak sambal belaka.
“Hendaklah
kamu (sang manusia), menjadi sempurna!”
…
Kediri,ย 27ย Maretย 2024

