| Red-Joss.com | Sepahit apa pun peristiwa hidup ini, aku mencoba untuk diam dan tidak mengeluh, tapi merenungkannya. Ada hikmat apa di balik peristiwa ini?
Menjadi tangguh tanpa mengeluh, komplain, atau menyalahkan orang lain, meski aku mengalami peristiwa pahit itu. Aku belajar mensyukurinya sebagai anugerah Allah agar hati ini tidak mudah kecewa dan luka.
Sesungguhnya, aku belajar untuk jadi pribadi yang tangguh itu dari Yesus. Khusus dan teristimewa saat Yesus memanggul salib ke Golgota, hingga wafat-Nya.
Yesus rela berkorban untuk taat dan setia pada kehendak Bapa. Untuk menebus dosa dan menyelamatkan umat manusia.
Ibarat anak domba yang hendak disembelih, tapi tidak mengembik. Kendati jatuh hingga ketiga kali, tapi Yesus bangkit kembali untuk menyelesaikan tugas-Nya.
Tiba-tiba dada ini jadi menyesak sakit sekali dan tanpa sadar aku menangis.
Dulu, jika aku berbeban berat dan
menghadapi persoalan yang rumit, aku biasa komplain dan bertanya pada Allah, “Mengapa harus aku, tidak pada orang lain?”
Kini aku sadar sesadarnya, bahwa anugerah Allah sungguh luar biasa. Ketika doaku seakan tak terjawab, sia-sia, dan membuat aku nyaris putus asa. Ternyata Allah memberi yang terbaik melebihi yang aku minta.
Allah belum menjawab doa kita, tapi menunggu saat yang tepat, dan indah pada waktu-Nya.
Allah mengajar kita untuk jadi pribadi yang sabar, tabah, dan tekun dalam pengharapan. Sekaligus agar kita makin dekat pada-Nya.
Dengan memaknai jalan salib-Nya, tiap kali jatuh, gagal, atau terpuruk. Aku tidak boleh menyerah dan putus asa. Tapi agar aku melihat hikmat yang tersembunyi, untuk bangkit kembali dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai.
Yesus juga memberi teladan kasih dengan mengasihi dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya.
“Ya, Tuhan ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu yang diperbuat.”
Dengan meneladani Yesus, kita dituntut untuk jadi pribadi yang tangguh dalam iman dan rendah hati.
…
Mas Redjo

