| Red-Joss.com | Cara sederhana, mudah, dan cepat untuk memperoleh uang adalah dengan dagang. Tapi kita mau berdagang apa?
Pertanyaan itu sering menganggu, bahkan membelenggu kita. Karena merasa tidak mempunyai bakat, kita tidak mau berdagang
Jangan merasa ngeri, seram, dan takut dengan bayangan sendiri.
Jangan malu dan berkecil hati, karena tidak mempunyai bakat, modal, dan seterusnya.
Sesungguhnya berdagang itu tidak sulit dan tidak harus mempunyai modal besar. Karena yang sulit itu, karena kita takut dengan bayangan sendiri dan tidak mau melakukannya.
Padahal berdagang itu sederhana, praktis, dan mudah.
Hymne lagunya juga menyemangati sekali: “Ayo, jualan! Ayo, jualan…!”
Kapan untuk memulai? Kita tidak harus menunda waktu: nanti, besok, atau lusa. Tapi saat ini, dan hari ini!
Apa yang mau dijual? Yang dimiliki dan ada di sekitar kita.
Coba buka mata dan perhatikan, barang-barang yang kita punyai untuk dijual dan dijadikan uang. Misalnya koran, kardus, dan barang rosok lainnya. Bisa juga pakaian bekas yang layak pakai. Ketimbang memenuhi gudang, mending dijual jadi uang.
Pengalaman pribadi, saya senang berdagang, karena tidak sengaja. Tepatnya, tahun 1996.
Sepulang kerja, saya biasa belanja di Pasar Kebayoran Lama. Rumah di Pamulang dan jauh dari warung sayur. Belanja untuk istri, karena ketiga anak masih kecil, repot, dan tidak bisa ditinggal. Kami juga tidak mempunyai ART.
Dari kebiasaan belanja di pasar itu, lalu teman sekantor titip dibelikan ayam potong, ikan, dan sebagainya. Hasil jualan dapat saya gunakan untuk ongkos naik angkutan.
Dari belanja sayuran, saya lalu merambah usaha ke pakaian, alat tulis kantor, hingga barang-barang ekektronika. Apa pun kebutuhan pelanggan itu harus dipenuhi. Asal halal dan jujur.
Pelan, tapi pasti dan meyakinkan, saya belajar sistem jaringan untuk mengembangkan usaha. Baik lewat komunitas gereja, organisasi, teman sekolah, dan sebagainya.
Prinsip usaha saya, meski margin keuntungan kecil tapi omset penjualan makin meningkat. Target demi target pun terlampaui.
Jauhi besar pasak daripada tiang dengan cara “berhemat dan pendam uang (menabung)” untuk pengembangan usaha atau investasi yang lain.
Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.
Ayo, jualan!
…
Mas Redjo

