Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pengalaman hidup di dalam keluarga adalah sebuah asa dan rindu yang tersimpan di dalam memori sang manusia.”
(Didaktika Hidup Sosial)
…
| Red-Joss.com | Tulisan ini bertolak dari sentuhan hati, ketika aku menyaksikan dan mencermati seorang pria perantau, yang memosting selembar foto masa kecil mereka di dalam keluarganya. Kamis, (21/3/2024).
Tampak selembar foto hitam putih lusuh dan jadul. Di dalamnya tampak Ayah dan Ibu. Di sisi kiri Ibu, ada seorang anak laki-laki dan sebelah kanan Ayah tampak dua anak putri.
Sekilas tampak sebuah keluarga dengan tiga orang anak kecil yang terkesan sangat polos dan seadanya.
Selain gambaran itu, yang lebih mengesankan dan menyentuh hati ialah isi dan pesan tulisan yang terpampang di bawah foto itu.
Ayah dan Bundaku, entah sudah di mana kalian berdua. Dari tanah rantau, hari ini, aku putramu sempat memandang lagi potret buram masa kecil kami bertiga bersamamu berdua.
Aku, si sulung yang sering disapa si Abang. Kedua adik putriku, yang sering kami sapa, si Tengah dan si Bungsu.
Kini, hampir empat puluh tahun silam, kenangan dan rindu meredup ini pun tersimpan di dada sendu ini. Selembar foto kenangan keluarga yang terkesan sunyi dan kusam, tapi seolah hidup.
Ya, itulah potret kehidupan. Ia ibarat berkaki yang ternyata dapat berlari sangat cepat. Biasanya yang tersimpan dan tersisa itu hanya seutas tali kenangan dan bara api kerinduan yang menggayut di nurani ini.
Duhai sang waktu, duhai sang hidup, engkaulah Guru Agung kami. Engkaulah yang mengajarkan kami, makna sejati dari secarik daun kehidupan.
Engkau juga yang mengajarkan kami, tentang makna luhur: hari ini, kemarin, dan hari esok. Bahkan di masa silam, engkau juga mengajarkan kakek dan nenek, apa makna: masa kini, masa lalu, dan masa depan.
Di manakah kedua adik putriku, yang kini telah menyandang predikat sebagai ibu dari sejumlah anak?
Nyata, bahwa kami telah terpisah, tidak saja oleh gunung, tanjung, dan lautan lepas, namun juga terpisah secara nurani.
Semoga selembar foto usang keluarga ini menjadi sarana pelepas rindu sayang kita akan merdu dan indahnya lagu rindu Ibu serta kokohnya lengan perkasa Ayah.
Kelak, semoga para anak cucu dari kami bertiga dapat mengenang dan merindukan kasih sayang sejati dari Kakek dan Nenek mereka.
“O Tempora, O’ Mores“
(Duhai sang waktu, duhai sang kehidupan).
…
Kediri,ย 24ย Maretย 2024

