“Jika diminta untuk melewati jalan terang, remang-remang, atau jalan gelap. Kau pilih jalan yang mana?”
…
| Red-Joss.com | Pertanyaan itu pernah disampaikan Guru Bijak kepadaku. Sebelum aku menjawab, beliau menambahkan, bahwa jalan terang yang dilewati itu terjal, berat, dan banyak tantangan. Jalan remang-remang itu tenang, suasananya nyaman, dan dipenuhi suara musik nan syahdu. Sedang jalan gelap itu tanpa cahaya. Bahkan saking gelapnya, tangan sendiri juga tidak tampak.
Dengan bertanya tentang makna jalan itu Guru Bijak mengajak kita untuk selalu berefleksi diri mohon penyertaan dan bimbingan Allah agar kita tidak salah langkah atau bertindak dalam menjalani hidup ini.
Faktanya, bahkan umumnya, kita enggan, bahkan malas untuk memilih jalan terang yang penuh tantangan itu. Kita cenderung senang jalan remang-remang yang bernuansa santai dipenuhi sarana hiburan. Suasana nyaman yang sering kali membuat kita terlena jadi mager alias malas gerak.
Begitu pula dengan jalan gelap dan tanpa cahaya itu. Faktanya, maaf, kita melihat. Tapi mata hati kita buta. Bahkan banyak di antara kita yang memilih hidup dalam gelap, berbuat dosa, dan mengingkari hati nurani.
Sesungguhnya hidup ini pilihan. Tapi adakalanya kita tidak dapat memilih, ketika Allah berkehendak atas hidup kita, dan hal itu harus diterima dan dijalani penuh syukur.
Sesungguhnya untuk hidup sukses dan bahagia itu kita harus melewati jalan terang nan terjal, berat, dan banyak tantangannya itu.
Kita dituntut untuk berani ke luar dari kemalasan dan kenyamanan diri. Tidak juga untuk mencari jalan mudah, instan, dan menggelapkan hati. Sehingga berbuat curang dan culas yang berujung pada sesal dan derita.
Jalan terang adalah pribadi yang bersikap jujur, benar, dan tulus hati untuk menjalani hidup ini agar jadi pemenang: sukses dan bahagia.
Jalan terang iman yang kita ikuti itu ada pada pribadi Yesus (Yoh 14: 6).
Tuhan memberkati.
…
Mas Redjo

