| Red-Joss.com | “Macet, hujan, atau banjir!” Adalah sebagian kata sakti nan ampuh dan biasa digunakan, ketika kita datang terlambat janjian dengan kolega atau tiba di kantor.
“Harap maklum,” kendati kata itu tidak diucapkan, tapi agar orang lain mau mengerti dan memahami sebab keterlambatan kita.
Sesungguhnya, ketika mohon dan membiasakan diri untuk minta dimaklumi dan dipahami orang lain, kita lemahkan semangat juang sendiri.
Sesungguhnya, jika kita tidak ingin datang terlambat, lebih bijak kita berangkat lebih awal.
Coba lihat, ketika pagi hari turun hujan. Orang bersicepat dengan motor, karena takut basah dan datang terlambat. Akibatnya kita kurang waspada, sehingga rawan terjadi kecelakaan, emosi tinggi, dan seterusnya.
Berbeda hasilnya, jika kita biasa mendisiplinkan bangun pagi dan berangkat ke tempat kerja lebih awal.
Jika kita tidak ingin kehujanan di jalan, ya, kita membeli jas hujan yang selalu disiap-sediakan di motor agar kita tidak basah kuyup kehujanan.
Saatnya kita membuang jauh budaya minta dimaklumi dan dipahami, karena hal-hal sepele dan remeh temeh itu melemahkan mental juang kita.
Jika kita berbuat dan melakukan kesalahan, lebih baik kita bersikap jujur untuk mengakuinya dan meminta maaf. Ketimbang mencari alasan untuk pembenaran diri, tapi berbohong. Hati juga tidak tenang dan berdosa.
Mari, lebih bijak memahami orang lain, ketimbang kita minta dipahami. Apa pun alasannya, sesungguhnya, ketika mencari pembenaran diri, kita dikalahkan oleh ego sendiri.
Semangat perubahan untuk memberikan yang terbaik itu harus dimiliki oleh tiap insani yang ingin sukses dan bahagia.
Andalah pejuang sejati itu!
…
Mas Redjo

