| Red-Joss.com | Dua minggu belakangan ini kita diajak bersih-bersih diri dari sampah-sampah jiwa yang telah jadi endapan penghambat arus rahmat Tuhan. Akan tetapi, jika tak dituras dari sumbernya, tidak dapat dijamin bersihnya. Sampah itu akan kembali menggunung dengan cepat.
Sumber sampah itu adalah pikiran, yang mewujud dalam perkataan, perbuatan dan kelalaian. “Lalai itu apa?”
Kata lalai bisa berarti tindakan kurang hati-hati, tidak mengindahkan, dan lengah. KBBI menyebut sebagai tidak ingat, karena asyik melakukan sesuatu; terlupa. Lalai tidak memenuhi yang utama atau hakiki. Karena terlalu asyik dengan sesuatu atau seseorang, jadi lupa semuanya.
Lalai juga berarti terlupa. Lupa, bahwa ‘melayani’ itu sebenarnya bukan tentang menduduki jabatan akan tetapi memangku jabatan.
Kata menduduki lebih mengarah kepada sikap ingin berkuasa. Jabatan baginya adalah suatu alat untuk mendapat kenyamanan saat diduduki. Sedangkan, kata memangku jabatan lebih mengarah pada sikap bertanggung jawab atas apa yang dipangku.
Makin lama menjabat akan makin terjerat rasa nyaman dan mudah lalai dengan kewajiban utamanya. Lama-lama akan lalai dengan jati dirinya.
Lalai berbuat baik, dan memenuhi janji itu dosa. Seperti yang dikatakan St Yakobus: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4: 17).
Semoga makin dekat dengan hari kebangkitan, kian ingat pada janji-janji yang belum terpenuhi dan tidak lengket dengan kedudukan yang nyaman, sehingga membuat jiwa terlelap dalam hidup semu.
Salam sehat dan jangan lupa bahagia.
…
Jlitheng

