| Red-Joss.com | “Emang salah?” AK balik bertanya dengan tatapan heran.
“Menurutku, lho. Masak orangtua hitung-hitungan dengan anak.”
“Dalam bisnis harus seperti itu, dan benar. Kita harus bisa membedakan uang untuk keluarga dengan uang usaha,” jelas AK.
“Seharusnya orangtua itu senang, jika anaknya mandiri.”
“Itu benar. Fasilitas dan kemudahan itu jangan membuat kita jadi malas dan terlena. Karena ingin mandiri, aku belajar menghitung dengan cermat. Biaya sewa ruko, listrik, ongkos produksi, ongkos kirim, dan sebagainya.”
Aku terperangah dengan cerocosan AK yang membuat pikiranku jadi terbuka.
“Aku beruntung, karena difasilitasi ruko untuk usaha. Meski tak bayar penuh, tapi aku tahu diri, untuk menyisihkan uang sewa… ternyata uang yang kuberikan ke Bapak itu disimpan oleh Ibu untuk modal tambahan, jika kelak aku ingin sewa atau kredit ruko sendiri,” jelas AK bangga.
“Jadi…?!” saya bengong.
“Banyak teman juga salah persepsi. Anggapan mereka, Bapak ekstrem. Mereka tak percaya, aku berhutang pada Bapak itu harus dibayar. Minta uang dan berhutang itu beda. Minta uang itu dari kerelaan hati. Padahal tujuan Bapak mengajariku agar aku bertanggung jawab dalam mengelola keuangan sendiri secara baik dan benar.”
“Sori,” aku manggut-manggut.
“Tidak apa. Rasa sungkan, tidak enak hati itu yang membuat kita kehilangan rasa ‘tepa slira’, dan jadi suloyo. Kita diberi hati, tapi minta juga jantungnya.”
AK tampak dewasa, matang, dan bertanggung jawab.
Aku tersenyum, dan mahfum.
…
Mas Redjo

