| Red-Joss.com | Berserah diri pada kehendak Allah adalah hal yang wajar, penting, dan mutlak dilakukan oleh siapa saja. Tapi, apakah kita melakukan hal itu hanya di bibir, setengah hati, atau secara totalitas?
Faktanya, banyak di antara kita yang melakukannya sebatas di bibir, bukan dari lubuk hati yang terdalam.
Berserah diri itu mudah diucapkan tapi sulit dilakukan, karena diterapkan dalam hidup keseharian. Kita dituntut seia-sekata, baik dalam kata dan tindakan. Berserah diri itu tidak identik berdiam pasrah tanpa berbuat apa-apa. Tapi kita dituntut jadi pejuang yang gigih dan tekun berdoa.
Kita tentu ingat kisah Ayub. Dia orang benar. Seorang nabi yang hidupnya tanpa cela. Tapi di puncak kehidupannya, semua yang dimiliki tandas itu tak tersisa, bahkan orang-orang yang dicintainya ikut diambil daripadanya.
Hidup Ayub dijungkirbalikkan. Dari posisi di paling atas dan mulia jadi yang ternista di antara yang paling hina. Ia terpuruk ke dasar yang paling dalam, gelap, dan sendiri.
Pedihnya melebihi kesedihannya. Jiwanya terluka oleh sengsara. Tidak ada yang menolongnya. Ia dicemooh, ditertawakan, dihina, dan bahkan merasa ditinggalkan oleh Allah. Ia menderita, karena merasa dilupakan Sang Pencipta!
Pernahkah kita mengalami hidup seterpuruk Ayub? Pengalaman Ayub dan kita ibarat langit dan bumi. Kita mudah mengeluh, meratap, menyesali hidup, dan menyerah terhadap gempuran persoalan. Kita sering menyalahkan nasib. Kita seakan ditinggalkan Allah, karena doa-doa kita tidak didengarkan oleh-Nya.
Coba kita belajar dari Ayub. Berserah pada kehendak Allah itu butuh proses. Kita diajak membuka hati dan mohon, supaya dituntun Allah. Kita harus melepas ego dengan menyangkal diri dan fokus kehendak Allah, karena Allah tidak pernah menguji umat-Nya melebihi kekuatan kita.
Coba buka kitab Ayub 42: 1-6. Maka jawab Ayub kepada Tuhan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal…”
Apa yang dilakukan Ayub merupakan Kekuatan Berserah (The Power of Surrender). Ia berserah dan menaklukkan diri sendiri pada Kemahakuasaaan Allah. Ia percaya dan berani menggandalkan rencana Allah dalam merancang semua makhluk-Nya.
Sesungguhnya, dengan membuka hati dan menyangkal diri, kita bisa menimba kekuatan dari Ayub. Kita ini hanya insan Allah, ciptaan-Nya, dan kita adalah milikNya.
‘Manunggaling Kawulo Gusti Sumonggo Gusti’. Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.
…
Mas Redjo

