Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ya, saudara, saya bersumpah, entah siapa pun yang memimpin kita, jika tabiat kita memang demikian; maka akan selalu terpuruk kita.”
(Ratapan dari Seutas Tali Persaudaraan)
…
| Red-Joss.com | Ternyata di mana-mana selalu terjadi pergeseran sosial antar manusia.
Di lembaga negara, dalam lembaga sosial, dalam ranah edukasi, dan bahkan juga dalam lembaga keagamaan sekalipun.
Mengapa selalu terjadi demikian? Apa faktor penyebabnya? Apa radiks dari permasalahannya?
Tulisan reflektif โSetali Tiga Uangโ alias โsebelas dua belasโ, alias โbeda tipisโ.
Suatu hari terjadi insiden. Ada perkelahian antar para murid penghuni asrama.
Usut punya usut, alasannya, karena ada murid yang tidak puas dengan kepemimpinan di asrama yang bersifat otoriter.
Mereka mendatangi Guru dan mengadukan kondisi ekstrem ini. Tampak Guru itu hanya diam mendengar aneka ocehan yang berapi-api.
Beliau lalu mengangkat wajah dan tegas berkata, “Jika itu alasanmu, silakan, carilah seorang Pemimpin baru.”
Keesokan hari, Pemimpin baru pun terpilih. Terdengar riuh tepukan tangan serta teriakan kegembiraan.
Sepekan berlalu, suasana aman dan nyaman pun sungguh terasa di dalam asrama itu. Tampaknya suksesi kepemimpinan ini sungguh tepat.
Namun, sebulan berselang, terdengar lagi teriakan dan lontaran kata-kata kasar kepada sang Pemimpin. Alasan mereka, beliau suka bersikap diktator.
Karena insiden itu sampai berdarah-darah, maka kali ini, Guru itu segera turun tangan.
Keesokan hari, beliau dengan tegas berujar, “Sekarang, sekarang juga, sekali lagi, โฆ sekarang juga, pilihlah seorang Pemimpin terbaik, versi kalian.”
Sejam berikut, terpilihlah seorang murid yang memang sudah dikenal baik dari antara mereka.
Banyak sanjungan ditujukan kepadanya. Karena selain sebagai juara sekolah, dia pun juga sebagai murid teladan.
Namun apa lacur. Rupanya, yang namanya kepemimpinan di bawah tangan seorang manusia, ya, ternyata juga, “setali tiga uang” alias beda tipis.
Mereka pun tidak puas karena dia menggunakan gaya kepemimpinan masa bodoh alias ‘laissez faireโ.
Kali ini, baru terkuak sebuah misteri besar. Karena ternyata, selama ini, Guru itu dengan sengaja membiarkan para murid untuk belajar berdemokrasi dari sebuah kenyataan, bahwa inilah sejatinya, tabiat masyarakat kita.
Dia sengaja membiarkan, agar para calon warga masyarakat itu, mau belajar dari fakta morat-marit dalam masyarakat.
Sesungguhnya, itulah realitas karakter manusia. Itulah sebuah kondisi riil yang ada dan sering terjadi di dalam masyarakat kita.
Kepemimpinan alias leadership adalah sebuah kharisma yang diberikan kepada seorang manusia untuk memimpin.
Permasalah yang terjadi di asrama ini sejatinya, bukan hanya kelemahan karakter sang pemimpin asrama, melainkan juga kelemahan pemahaman warga asrama, atas gaya kepemimpinan.
…
Kediri,ย 19ย Maretย 2024

