| Red-Joss.com | Siapa bilang, menerima kenyataan pahit itu berat dan sulit. Disadari atau tidak, sesungguhnya yang sulit itu berasal dari ego yang cengeng dan mengasihi diri sendiri.
Karena berat dan sulit, maka aku tidak mau baperan dan cengeng, tapi aku mencoba menyikapi peristiwa itu dan memahaminya untuk melihat hikmat Allah yang tersembunyi.
Caranya, aku membuka hati untuk sujud ke hadirat Allah. Mohon agar aku dimampukan untuk melihat hikmat-Nya (Yak 1: 5).
Ketika aku tersandung di jalan dan jatuh, ternyata aku asyik bermain hp, karena jalan meleng dan tidak konsentrasi. Tidak hanya itu, aku juga menjadi saksi seorang teman yang hp-nya dijambret di jalanan. Hikmahnya adalah agar berjalan dengan fokus dan tidak main hp di jalan, karena memancing kejahatan.
Ketika banyak uang nyangkut di pelanggan, ternyata aku sendiri yang lengah. Aku sekadar menjual barang agar omset meningkat, tapi tidak melihat situasi ekonomi yang melambat, bahkan sedang krisis. Sehingga lebih baik menjual barang dengan untung tipis dan pasti, ketimbang untung besar hanya di angan-angan.
Ketika anak ngotot kuliah jurusan komputer itu sekadar ikut-ikutan teman. Meski dari hasil test masuk memperoleh beasiswa 50%, tapi ternyata ia bertahan setahun. Ia lalu pindah kuliah di jurusan yang sreg di hati dan sesuai dengan minatnya.
Aku meluluskan permintaan anak. Dengan catatan ia harus lulus lebih cepat, karena waktu dan biaya setahun telah dibuang percuma. Akhirnya ia membuktikan janjinya itu.
Untuk melihat hikmat Allah dalam peristiwa hidup itu modal utamanya adalah keterbukaan hati untuk merendah di hadapan-Nya. Kita dituntut untuk membiasakan diri menyertakan Allah agar dampingi dan pimpin hidup kita.
Dengan mudah bersyukur, bahwa sesungguhnya peristiwa hidup kita adalah ketetapan-Nya. “Sebab rancangan kita bukanlah rancangan-Nya, dan jalan kita bukanlah jalan-Nya” (Yes 55: 8).
Berbesar hati agar kita berani untuk menerima kenyataan pahit dengan puji dan syukur kepada Allah. Di balik peristiwa itu kita dididik untuk jadi pribadi yang sabar, tabah, dan rendah hati.
“Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan dari pada sepuluh penguasa dalam kota”(Peng 7: 19)
…
Mas Redjo

