Cerita Pendek Oleh Mas Redjo
Red-Joss.com – Jengkel dan kheki, itulah suasana hati saya yang uring-uringan. Saya dibanding-bandingkan dengan orang lain, ketika berkunjung ke rumah Doi.
Bagaimana tidak jengkel. Seorang pengagum Doi datang bertamu. Dia lalu mengenalkan diri sebagai profesional muda. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah sikap Ibu Doi yang memberi angin segar pada tamu itu.
Ibarat menginjak bara api, peristiwa malam itu saya anggap sebagai ujian mental. Dengan menggunakan ilmu ndableg, saya tetap tenang, meski tidak lebih sebagai kambing congek.
Dihina tidak membuat saya makin hina. Direndahkan tidak membuat saya makin rendah. Diremehkan tidak membuat saya makin kecil dan kehilangan arti.
Dengan berpikir positif, hati ini tidak mudah terlukai. Sebaliknya saya makin termotivasi untuk mengambil hikmahnya. Dan memberikan yang terbaik dari diri saya.
Untuk bersaing dengan profesional muda itu, DK, saya kalah jauh, baik dari segi pendidikan, penghasilan, dan tongkrongan.
Keberuntungan saya saat ini, Doi tidak terpengaruh bujuk rayu DK. Tapi, jika Ibu Doi terus memanasi, bisa terpercik api, dan terbakar.
Saya ngeri membayangkan hal itu. Bukan berarti meragukan cinta Doi. Melainkan saya harus tahu diri. Jalan satu-satunya adalah saya harus naik banding agar hidup saya makin mapan.
“Kenapa Mas sekarang jarang datang?” protes Doi suatu malam, ketika saya membatasi diri untuk menemuinya.
“Maaf, Mas lagi merintis usaha baru,” jelas saya.
“Ada yang baru lagi selain Doi?” katanya mengajuk hati.
“Emang ada yang mau sama Mas? Jujur, Mas dicintai Doi adalah suatu keberuntungan,” kata saya sambil ngakak.
Saya lalu menceritakan usaha online yang tengah saya rintis itu. Caranya, saya harus berani ke luar dari zona nyaman. Hari Sabtu dan Minggu, saya mencari industri rumahan (UMKM) untuk mencari produk-produk yang berkualitas dan mengageninya.
“Ini, saya sekarang jadi admin beberapa grup WA untuk membantu penjualan barang, pasang di instagram…,” jelas saya terus menunjukkan hp itu pada Doi.
“Pekerjaan Mas sendiri gimana?” wajah Doi makin sumringah.
“Beruntung, Mas mempunyai Bos yang baik hati dan ngertiin. Yang penting pekerjaan Mas selesai dan tanggung jawab. Di rumah, kini Mas punya 5 freezer untuk menyimpan produk-produk itu. Untuk ngirim barang pesanan pelanggan, Mas dibantu oleh Ibu.”
“Kok baru cerita?”
“Karena Mas tidak mau dibanding-bandingkan, makanya Mas naik banding. Dan nggak lama lagi Mas mau pamit sama Bos untuk ke luar. Mas mau serius untuk menekuni bisnis online ini,” saya meyakinkan Doi.
“Mas jahat!” Doi menggelitik pinggang saya, karena gemas.
“Malam Minggu ini Mas mau menculikmu untuk datang ke rumah agar Doi melihat bisnis Mas yang baru,” ajak saya.
Doi mengiyakan. Wajahnya makin berseri. Ia beranjak ke dalam, lalu ke luar bersama Ibunya.
Saya minta izin pada Ibu Doi. “Terima kasih, Ibu sudah memotivasi saya,” kata saya tulus, tapi itu hanya dalam hati.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

