| Red-Joss.com | “Meh panen nggih, Bu, sudah ada yang suluh pisangnya,” sapaku sore itu kepada Ibu yang menanam pisang di depan rumahnya.
“Betul. Tandanannya penuh. Dua hari lagi kita panen, ya”, jawab Ibu itu.
Sapaan itu tersambung dengan ‘sharing’ aktivis Gereja pagi tadi, yang berniat hidupnya lebih berbuah. Bahwa sesungguhnya, hidup berbuah lebat itu erat terkait dengan merawat lahan yang ditanami.
Tidak saja agar bersih dari batu dan duri. Tidak juga agar subur saja, tapi agar benih itu bertumbuh, berbunga, dan berbuah. Kita menjaga juga agar buah-buah itu tidak busuk atau dirusak hama, sehingga buahnya membuat sukacita banyak pihak.
Demikianlah dengan hidup ini. Akan berbuah lebat, jika memiliki akar yang kuat dan relasi yang hangat dengan Sang Pencipta, asal dan muara segalanya, dengan doa, hidup bersama dan Ekaristi Kudus terutama.
Sehingga jika ada pertanyaan: “Apa yang kamu rasakan setelah melayani di Gereja, apa pun itu?”.
Jawabannya: “Aku bahagia, sebab dapat terlihat dan terlibat merawat lahan Tuhan, Gereja, atau yang lainnya.”
“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12).
Salam sehat dan tetaplah bahagia.
…
Jlitheng
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

