Simply da Flores
…
Menghadapi musim pancaroba
diadakan musyawarah para burung
Di ibukota negara Nusantara
membahas nasib alam lingkungan
serta keberlanjutan habitat mereka
Ada Kasuari dan cendrawasih dari Papua
Ada Kakatua dari Maluku
Ada Gagak dari Nusa Tenggara
Ada Jalak dari pulau Dewata
Ada Maleo dari Sulawesi
Ada Perkutut dari Jawa
Ada Enggang dari Kalimantan
Ada Murai dari Sumatera
Ada Pipit dari Metropolitan
Ada Garuda dan Elang lintas kathulistiwa
Memimpin jalannya musyawarah sehari
dan hasilkan petisi
Cendrawasih dan Pipit
membacakan petisi
di hadapan media dan penonton
Burung-burung lain berbaris di belakang
Mereka kibarkan bendera hijau merah
Hijau lambang lingkungan lestari
Merah tanda berani dan hidup
Lalu,
mengawali pembacaan petisi
dinyanyikan dengan syahdu mengalun
Lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’
“Kulihat Ibu Pertiwi
sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
merintih dan berdoa…”
Lalu petisi dibacakan bergantian
oleh Cendrawasih dan Pipit
“Kami laskar para burung
yang mendiami negeri Nusantara
yang menghuni tanah air Indonesia
Dengan ini menyatakan sikap
kepada segenap manusia generasi bangsa
yang mewarisi negeri NKRI ini:
1.
Kami ini juga makhluk hidup
yang tercipta untuk menghuni bumi
Sekarang habitat kami rusak
lingkungan kami sempit terjepit
Banyak saudara kami tersingkir dan punah
Karena perilaku kalian manusia
Memburu dan mematikan kami
Membabat hutan demi perkebunan
Mengusur lingkungan untuk pemukiman
Menguras bumi demi pertambangan
Kalian beranak pinak membludak
kami semakin merana terjepit punah
2.
Kami tak mampu melawan kalian
Manusia yang cerdik dan bersenjata
Maka
hanya kepada Ibu Bumi
kami meratap dan mengadu
hanya kepada Bapa Langit
kami menengadah minta pertolongan
“Apakah kami harus punah
Apakah kami bukan ciptaan
Ke mana kami harus pergi berlindung?”
3.
Kepadamu para pemodal kaya raya
haruskah alam lingkungan dikuras tuntas
demi kesenangan dan keuntungan mu
Kepadamu para penguasa rakus
di manakah pikiran warasmu
mengapa lingkungan harus dibabat brutal
Mengapa polusi semakin merebak?
4.
Kepadamu para penggemar burung
Mengapa kami ditangkap disangkar
demi hobi dan keuntunganmu
Apakah selera dan hobimu sangat penting
sehingga saudara kami banyak mati
karena dijerat dan ditembaki ?
5.
Saatnya sudah tiba dan terjadi
Air mata dan jeritan kami
didengar oleh Ibu Bumi
dipeduli oleh Bapa Langit
Sesama saudara alam lingkungan
bangkit dan membela nasib kami
Musim akan tidak menentu
Bencana alam terus melanda
Wabah penyakit terus berdatangan
Untuk sadarkan kalian manusia
Untuk ingatkan kesombongan kalian
Dan
menagih segala ulah tingkahmu
merusak alam lingkungan jagat
Tanpa rasa syukur terima kasih
Apalagi peduli dan tanggung jawab
Setelah selesai petisi dibacakan
kembali lagu dikumandangkan
“Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Merintih dan berdoa…”
Lalu,
Para burung bersalaman haru
dan terbang kembali ke habitatnya
dalam diam sunyi lara nestapa
…

