Topik pagi ini terinspirasi dari tegur sapa beraroma nostalgia antar sahabat se almamater di We A grup kami. Ada yang berulang tahun ke 70. Selain beraneka ucapan selamat, ada pernyataan menarik: “70 adalah usia idaman menurut pemazmur sekaligus peringatan, bahwa tugas belum usai menurut Alkitab, harus mengampuni sampai 70 x 7.” Wah!
Selamat berbahagia dan berlanjut ‘menjadi garam lewat pengampunan’, sapa saya untuk opa yang hut.
Garam dalam konteks hidup saat ini, di sini bukan barang istimewa, murah melimpah hampir tidak bernilai. Garam memang murah, tetapi menjadi garam tidaklah mudah.
Garam, dalam konteks era Yesus, sangat beda. Garam adalah barang berharga yang bernilai tinggi, bahkan mempunyai nilai tukar seperti uang zaman sekarang. Kata ‘salary’ konon berasal dari kata ‘sal’ yang berarti garam. Pada zaman-Nya, garam digunakan untuk mengupah pekerja.
Menjadi garam dunia berarti menjadi orang yang bernilai bagi semua orang dengan cara:
- memberi rasa suka cita,
- menyembuhkan,
- menjadi berkat
- mengusir kuasa jahat
Sebagaimana fungsi garam pada zaman itu, jelas tidak cukup hanya menjadi biasa saja, ‘mediocre’ hambar tanpa rasa. Salah satu yang tidak mudah adalah menjadi garam lewat mengampuni sampai 70 x 7. Itu identitas kita sebagai murid-Nya.
Rupanya mengampuni juga tidak mudah bagi murid sehebat Petrus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku, jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh.”
Selamat Ulang Tahun ke 70 untuk semua Oma – Opa dan sahabat yang pas hut. Jangan lupa 70 x 7.
Salam sehat dan tetap berkobar berbagi cahaya.
Jlitheng

