Peduli adalah tentang konsekuensi. Ungkapan Jawa ‘wani nyeblung wani teles’ adalah gambar sikap pemimpin, relawan, sahabat Tuhan yang berintegritas.
Ketika seseorang akan masuk kolam, orang itu seharusnya sudah tahu akan basah. Ada hubungan yang tak dapat dihindari antara ‘wani nyeblung’ dan basah. Setiap keputusan yang kita ambil pasti mempunyai konsekuensinya. Legowo adalah sikap yang harusnya melandasi. Jika tidak, maka akan selalu dihantui oleh kebimbangan yang tidak kunjung tuntas. Hati selalu lelah dan pelayanan takkan pernah membuat wajah ini mampu tengadah. Tidak ada rasa bangga, dan… ‘there is no sence of gratitude’.
Pepatah ‘wani nyeblung wani teles’ itu akan makin klop, jika disatukan dengan pepatah berikut:
‘Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi’. Jika tidak merasa yakin jangan dilakukan, namun jika sudah yakin jangan bimbang dan ragu.
Sejak semula kita bertekad jadi relawan atau pelayan Tuhan yang punya prinsip, tegas, dan tidak ragu.
Namun, sebagai manusia memang terkadang berada di masa-masa yang sangat berat, bahkan untuk sekadar bernafas rasanya sulit dan sesak. Kebetulan mungkin, rasa sulit itu berbarengan dengan masa pengabdian yang sedang kita jalani. Merasa lelah, sendiri, tidak berhasil, tidak diterima.
Kita ingin rasanya meletakkan beban itu. Ingin bernafas lega seperti semula, ingin merdeka, ingin tanpa beban.
Pertanyaannya: “Kalau bukan kita, siapa yang diutus-Nya?”
Pastikan tidak sejengkal pun salib itu terpotong, sebab di sanalah tertulis rapor hidup kita.
Salam sehat tetaplah rela berbagi cahaya kalaupun nyalamu sedang redup.
Jlitheng

