Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Peradaban besar tidak pernah diciptakan oleh
banyak orang.”
(Prinsip Dasar Teori Minoritas)
Di dalam hidup dan bermasyarakat, sering juga kita mendengar ungkapan, ‘stres minoritas’, yaitu suatu perasaan sosial, bahwa dirinya kecil, kurang, dan tidak diperhitungkan oleh kelompok mayoritas. Hal ini memang ada dan sangat sering terjadi di dunia ini.
Di sisi lain, dalam konteks yang hampir sama ada pernyataan, “Banyak karya besar dan agung, yang justru diciptakan secara personal di dalam kesunyian.”
Sungguh benar statemen di atas. Karena di dalam sejarah peradaban umat manusia, ternyata banyak karya besar di bidang seni misalnya: (musik, sastra, lukisan, pahatan) atau pun karya tulis para pujangga yang justru diciptakan secara personal di dalam keheningan.
“Minoritas Kreatif” ide materi diangkat Instagram, dengan inisial Jayasetia Budi dengan judul sama.
Sejarahwan Inggris, Arnold Toynbee, lewat teori minoritas kreatif berprinsip, bahwa “peradaban besar tidak pernah diciptakan oleh banyak orang.”
Maka, dapat disimpulkan, bahwa sungguh benar isi prinsip ini! Jika ditinjau dari aspek pengalaman hidup manusia.
Mengapa? Karena jika kita setia dan merujuk pada prinsip ilmiah, bahwa ‘sebuah teori keilmuan, hanya dapat disimpulkan berdasarkan proses penelitian, serta pengalaman.’
Kebenaran teori ini justru bertolak dari fakta-fakta riil, bahwa:
‘Orang sedikit’ alias si minoritas itu sering tidak kehilangan harapan di dalam mengarungi badai hidup. Karena mereka lebih setia dan fokus, dibanding dengan arus besar yang bersikap akan saling menunggu.
‘Orang sedikit’ akan lebih bersikap pro aktif dan kreatif untuk menjemput bola. Karena bagi mereka, waktu tidak bisa ditunggu. Sementara itu, orang banyak alias si mayoritas sedang asyik bermimpi lewat prinsip biar lambat asal selamat.
‘Orang sedikit’ akan tetap dan terus berusaha, agar kian kreatif dalam berpikir. Sementara itu, orang banyak akan mengalami jalan buntu dan sesat pikir, karena mereka akan saling menjegal.
‘Orang sedikit’ tidak butuh restu dan petunjuk dari pihak manapun. Sementara itu, arus besar masih sibuk meminta petunjuk dan restu dari berbagai pihak.
Mencermati prinsip, dasar pijak, dan modus operandi alias cara bekerja dari ‘orang sedikit’, saya berpendapat, bahwa inilah permasalahan yang selalu kita alami, jika selalu berpedoman pada prinsip menghargai kelompok mayoritas.
Ternyata!
“Segelintir orang lebih
sanggup mengusung
suatu perubahan,
dibanding kelompok
mayoritas.”
Kediri, 13 Maret 2024

