Ketika kecil, saya pernah diajari Ibu cara memanfaatkan lahan rumah yang kosong dengan menanam tanaman obat, di antaranya jahe, kunyit, kemangi, sirih, lengkuas, dan juga jeruk nipis.
Alasan Ibu, lahan kosong, jika tidak dimanfaatkan itu mubazir. Bahkan dari tanaman obat itu kami dapat mengobati masuk angin, sakit nyeri, perut kembung, batuk, dan banyak lagi.
Setelah menikah, saya meneruskan hobi Ibu. Ketika kontrak rumah, saya menanam tanaman obat itu di pot-pot. Sehingga rumah tampak asri dan nyaman.
Kebiasaan memanfaatkan lahan kosong itu akhirnya jadi gaya hidup saya.
Setelah mempunyai rumah sendiri yang halamannya cukup luas, saya dan istri, selain menanam tanaman obat juga tanaman produktif. Misal, bayam, sawi, cabe, mangga, dan lainnya.
Selain untuk menenuhi kebutuhan sendiri, panenan itu dibagikan ke tetangga. Karena panenan banyak, buah itu diborong pengijon untuk dijual. Hasilnya lumayan.
Sesungguhnya, bertani di halaman rumah sendiri itu menyenangkan dan menyehatkan. Apalagi, jika kita dikunjungi tetangga atau teman itu membahagiakan.
Saya juga tidak malu, jika sedang bertani diledek oleh teman. Karena tubuh ini menjadi kotor dan berbau asem.
Sebaliknya, saya berbagi kisah dan pengalaman dari hobi bertani itu agar mereka tergerak hatinya untuk memanfaatkan lahan kosong di rumah atau menanam di pot-pot. Ketimbang membeli sayur atau bumbunya, lebih baik kita menanam sendiri. Selain berhemat, halaman rumah juga tampak hijau, segar, dan sejuk.
Untuk pupuk tanaman, kita tidak menggunakan bahan kimia, tapi memanfaat limbah dapur yang difermentasikan dibuat eco enzyme. Sehingga sampah rumah tangga jadi jauh berkurang, dan sedikit.
Ketika harga kebutuhan pangan melonjak mahal, masyarakat berteriak, karena banyak diimpor. Hal itu membuat hati ini sedih, bahkan miris.
Jika masyarakat diedukasi untuk senang bercocok tanam, menanam di halaman rumah sendiri. Tidak bergantung pada beras, tapi beralih ke makanan pengganti.
Jika swasembada pangan itu terus digenjot dan ditingkatkan. Negara kita nan luas dan ‘gemah ripah loh jinawi’. Dari ketahanan pangan jadi berdaulat pangan. Bahkan produksi pangan yang berlimpah itu dapat diekspor.
Seandainya para pemangku kebijaksanaan itu duduk bersama untuk membenahi carut marut jalur produksi dan pendustribusiannya dengan baik…
Semoga harapan indah itu kelak jadi kenyataan.
Mas Redjo

